Pada Suatu Malam

Lelaki itu memutuskan untuk masuk ke café kedua yang dilewatinya. Café itu cukup unik , dengan interior sederhana ; barrel kayu yang dijadikan meja dan kursi-kursi langsing coklat tua. Penerangan cukup memadai untuk mereka yang pengen minum dan mengobrol sambil makan bermacam-macam camilan traditional. Ada juga French fries dalam wadah-wadah rotan dilapisi kertas daur ulang. French fries, camilan bule yang sepertinya sudah menjadi tambahan camilan dalam menu camilan tradisional. Sebenarnya kita juga bisa membuat French fries dari ubi atau talas Bogor , dengan irisan tipis dan renyah, digoreng saat dipesan. Sudah ada nggak ya yang menasionalkannya ? Pasti bisa jadi camilan yang go internasional . Ahh, buat apa aku pikirkan ? Lelaki itu menarik ujung bibirnya sambil meneliti daftar minuman di hadapannya.

Dia tidak berniat untuk mabuk. Bir dingin dengan irisan jeruk cukup menggugah selera, pikirnya. 4 botol tidak akan membuatnya sempoyongan pulang ke kontrakan tengah malam nanti. Dia hanya ingin menikmati suasana café , tidak berpikir apa-apa, tidak menginginkan apa-apa.

Malam ini ingin dihabiskannya dengan bernafas sebanyak mungkin, selama yang dia bisa. Dia berencana akan menikmati setiap tarikan nafasnya dalam-dalam, merasakan setiap udara yang melewati ujung hidungnya. Tidak peduli bau apa yang akan singgah di penciumannya. Saat ini bau French fries yang baru digoreng, kacang goreng yang manis, hembusan bau red wine manis dari sepasang perempuan dan lelaki muda tidak jauh dari tempatnya duduk, menggelitik tenggorokannya. Pasangan itu tampak sedang berbahagia. Si perempuan memasang senyum yang sumringah di bibir tipisnya yang dipoles merah muda , dan si lelaki muda tidak melepaskan tatapannya dari wajah manis perempuan di depannya.

Dia pernah menjadi lelaki muda itu, yang menatap penuh cinta perempuan di depannya. Tapi perempuan yang dipandangnya tidak membalas dengan senyum sumringah seperti perempuan bergaun pendek itu. Yang dia terima adalah pendangan kecewa, mungkin sedikit bercampur iba dan cinta, lelaki itu menghibur pikirannya sesaat.

Dia rindu tiba-tiba sama perempuan itu , tapi saat ini dia tidak ingin memikirkan apa-apa, juga tentang perempuan itu. Dia hanya mengingat sesaat setiap lekuk raut perempuan itu , yang selalu suka dikatupnya dalam kedua genggam tangannya, begitu mungil , cantik tapi selalu memancarkan keteguhan hatinya yang tidak pernah bisa dia bantah. Karena perempuan itu selalu benar tentang segala hal tentang dia.

“French fries nya ditambah lagi , Mas ?” gadis berok pendek rapi dan tidak menggumbar keseksiannya itu mengambil mangkok rotan berisi French fries yang tanpa sadar sudah ludes dimakannya.

“Hhmm…nggak deh , Mbak. Tadi saya lihat di menu ada spring roll . Yang ayam ya, Mbak, seporsi,” satu teguk Corona dingin membilas tenggorokan keringnya.

Sepertinya lebih enak duduk di bar, pikirnya . Bar tampak kosong karena semua tamu yang ada memilih duduk di meja barrel . Dia menggapai seorang waiter yang lewat di dekatnya dan mengatakan dia ingin pindah duduk ke bar .

“Silakan, Pak. Saya akan bawa minuman Bapak ke sana,” sahut waiter itu.

“Nggak apa-apa. Hanya sebotol ini. Makasih, Mas,” dia melangkah ke bar sambil menenteng Coronanya.

Setelah duduk dia berbasa-basi sebentar dengan bartender , membicarakan pertandingan bola yang sedang berlangsung di TV yang tergantung di samping bar. Sebagai seorang laki-laki, dia tidak terlalu suka menonton bola. Dia lebih memilih tinju. Tapi dia suka ikut nobar bersama beberapa kawannya kalau ada pertandingan liga . Mereka biasanya memilih nobar di Kemang sambil menikmati bir dingin . Seringnya, kalau tidak bisa dibilang selalu, dia lebih menikmati bir yang disuguhkan atau beberapa gelas margaritha daripada ikut berteriak dan mengumbar emosi sesaat kalau club yang diunggulkan tidak menghasilkan gol yang diharapkan penggemarnya.

“Pertama kali ke sini ya,Pak,” tanya bartender.

“Ya,” sahutnya pendek. Pastinya bartender itu sudah hafal mereka yang suka duduk di bar ini. Dan pastinya dia tahu bahwa lelaki itu baru pertama kali ke sini.

Satu potong spring roll sudah berpindah ke perutnya. Masih ada 4 potong lagi . Paling dalam waktu sejam sudah ikut temannya berpindah ke perutnya yang entah kenapa tiba-tiba terasa lapar. Mestinya botol kedua Corona itu membuatnya kenyang tapi ini malah sebaliknya. Mungkin karna lambungnya sudah lama kehilangan rasa mengenyangkan dari fermentasi barley dan gandum itu. Rasanya sudah bertahun-tahun lalu, , tapi sebenarnya tidak.

“Kalau tidak ada yang nonton bisa cari program musik nggak, Mas ?” tanya lelaki itu setelah mengamati bahwa tidak ada seorang tamu yang tertarik untuk menonton pertandingan bola di TV itu.

“Oh boleh, Pak. Sebentar,” bartender itu dengan cekatan mengambil remote dan mengganti ke program musik. Kebetulan yang disiarkan adalah salah satu Live Sting di London. Cukup menarik. Dia sebenarnya tidak berminat untuk menonton, hanya ingin menikmati suara – suara yang enak di kuping daripada teriakan pembaca acara bola itu , yang walaupun sudah dikecilkan volume suaranya masih juga cukup keras menerpa kupingnya.

Sambil mengunyah spring roll kedua, lelaki itu menonton Sting beraksi dengan suara indahnya.

“Malam Mbak,” terdengar suara bartender menyapa lalu suara kursi bar ditarik.

“Malam. Biasa ya,” suara agak sengau seorang perempuan yang dibelakanginya membuat lelaki itu menegakkan tubuhnya dan membalik menghadap ke rak bar.

Dengan disengaja, lelaki itu mengalihkan pandangannya ke samping kirinya , di mana perempuan bersuara sengau itu duduk.

“Selamat malam,” sapa lelaki itu.

Perempuan itu menoleh ke arahnya. Bola matanya yang bulat dinaungi olesan eye shadow warna peach tidak menyiratkan apa-apa. Tapi bibir penuh yang menyembulkan gigi putihnya memberi seulas senyum dan membalas dengan selamat malam.

Mata yang cantik. Tapi kenapa seperti tidak ada kehidupan terpancar dari situ ya ? pikir lelaki itu. Ah, aku terlalu sok tahu. Tapi selama bergaul dengan Romo Yos yang menurutnya berpikiran bebas dan lebih spiritual daripada dogmatis , mengajarkannya banyak hal . Salah satunya adalah dia bisa merasakan bagaimana seseorang itu memancarkan perasaan tersembunyinya melalui pandangan mata.

Pesanan perempuan itu tiba. Segelas red wine. Sahabat perempuan, batin lelaki itu. Dia pernah baca dari satu artikel bahwa red wine yang diminum dengan takaran yang tepat, baik untuk kesehatan perempuan, terutama mereka yang mengalami darah rendah. Kalau menurut dia, semua liquer baik kalau dikonsumsi dengan tepat. Dan bir tetap menjadi pilihannya. Dia sendiri lebih sering menyalahi aturan itu sesuai dengan emosi yang sedang dirasakannya.

Perempuan itu dengan sopan mengangkat gelasnya ke arahnya. Dia mengangguk pelan.

“Penikmat red wine ?” entah kenapa dia menyeletuk. Lelaki itu heran sendiri dengan apa yang baru saja dilakukannya. Padahal ketika masuk tadi, dia hanya ingin duduk tenang dan menikmati minumannya. Dan sekarang , kenapa dia tiba-tiba jadi ingin mengobrol dengan perempuan di depannya ini ? Suaranya sengau nya menarik, dia mencoba membela diri.

“Ya, tapi tidak yang terlalu keras . Lebih sering memilih Cabernet Sauvignon. Enak dinikmati kalau cuaca Jakarta sejuk seperti sekarang,” perempuan itu tersenyum.

Cantik. Tidak ada polesan apa-apa di wajahnya yang sedikit tertutp dengan helaian poni panjang yang dibiarkan tergerai di sisi kiri wajahnya. Ujung rambut nya menyentuh pundak. Tampaknya dia bertubuh cukup tinggi untuk menyamai pandangan mata lelaki itu yang persis berhadapan dengannya.

“Oya ?” tiba-tiba lelaki itu tertawa kecil. Menyadari kebodohannya bahwa dia tidak terlalu mengerti soal rasa red wine kecuali beberapa nama seperti Merlot, Shiraz, Pinot Noir yang sering dilihatnya terpajang di bar café .

“Maaf, saya tidak bermaksud..” perempuan itu tersenyum rikuh.

“Bukan apa-apa. Saya tertawa karena kalau Anda meneruskan membicarakan tentang red wine, saya akan kelihatan benar-benar bodoh,” dia tertawa lagi. “Karena saya bukan penikmat red wine.”

“Oh, maaf,” perempuan itu tiba-tiba melayangkan matanya ke botol Corona di depan lelaki itu.

“Wah, seperti lagi berlebaran ya kita, kamu minta maaf terus,” lelaki itu tertawa lepas. Benar-benar lepas. Dia tidak tahu kenapa. Dia hanya merasa perempuan cantik di depannya itu, yang kelihatannya baru pulang kantor amat sangat menyenangkan. Mungkin saja karena dia tiba-tiba rindu sama perempuan cantik yang tidak mau dipikirkannya saat ini.

Perempuan itu ikut tertawa. Benar tertawa, tidak dibuat-buat. Dan suara sengaunya tambah indah, menurut lelaki itu.

“Saya tidak memperhatikan bahwa Anda penikmat bir,” lagi-lagi perempuan itu tersenyum rikuh.

“Tidak apa-apa. Kalau kita selalu memperhatikan orang lain, kita tidak bisa menikmati diri sendiri dengan hati yang senang. “

Perempuan itu mengangguk. “ Ya benar. Tapi setidaknya saya harus memperhatikan lawan bicara dengan lebih baik. Dan tidak asal nyerocos apa yang ada di pikiran .”

“Menurut saya, itu hal yang baik. Banyak orang , termasuk saya, kadang tidak bisa asal mengutarakan apa yang ada di pikiran , dan hal itu bisa menimbulkan prasangka yang lain dari yang dipikirkan,” diambilnya sepotong spring roll dan dalam dua kali gigitan sudah hancur dalam mulutnya.

“Wah, saya tidak sopan ya. Coba dicicipi,” disorongnya spring roll ke arah perempuan itu.

Perempuan itu tertawa kecil. Tiba-tiba lelaki itu sangat menikmati gigi putih yang berbaris rapi di balik bibir penuh itu. Tapi matanya tidak ikut tertawa, lelaki itu tersenyum prihatin. Kenapa ya?

“Terima kasih. Kalau menurut saya, dari semua camilan yang ada di sini, ini yang paling enak.” Dengan santai diambilnya sepotong .

Pasti dia langganan di sini , pikir lelaki itu. “Saya baru mencoba yang ini , dan French friesnya. Lumayan enak juga.”

“Ya, enak buat ngebir .”

Perempuan itu melambai ke arah bartender dan memesan satu porsi spring roll.

“Habisin aja, nggak apa-apa,” senyum lelaki itu.

“Kalau Anda makan 5 potong baru benar-benar terasa enaknya. Lagian ini juga keci-kecil potongannya.”

“Okay,” sahut lelaki itu.

Ketika sepiring spring roll tiba di meja mereka, mereka sudah saling berbicara dengan tidak menggunakan kata Anda.

“Ngantor di mana ?” tanya lelaki itu. Sebenarnya pertanyaan itu terlalu pribadi tapi dia sudah terlanjur bertanya. Dan dia tidak keberatan kalau perempuan itu tidak mau menjawabnya.

“Lokasi maksudnya ? “ perempuan itu balik bertanya, sambil bersidekap. Blus garis biru yang membungkus tubuhnya dan tidak menutupi lengan telanjangnya yang putih bersih, sangat menggoda pandangan lelaki itu. Indah. Blazer biru tua yang tadi dipakainya sudah disampirkan di kursi sebelahnya.

Tampaknya dia seorang yang hati-hati.

“Bisa lokasi bisa bidangnya. ASL ? “ dia tertawa .

Perempuan itu juga ikut tertawa, mengerti joke yang diucapkannya.

“Ya, saya ngalamin juga. ASL, tapi seru.”

“Sekarang sudah bukan jamannya lagi ya. Anyway, jawabannya ?”

“Kontraktor. Permata Hijau. Kamu ?” perempuan itu menatap, agak menyelidik. Tapi lelaki itu tidak tersinggung. Dia sudah belajar untuk lebih tidak emosional, lebih mendengar.

Lelaki itu tersenyum lebar. “ Pengangguran. Lokasi bisa di mana saja.”

Dia tertawa, sementara pipi perempuan di depannya itu bersemu merah. Dan sebelum dia mengucapkan kata maaf, lelaki itu memotong cepat. “Jangan bilang maaf. Tidak apa-apa. Memang begitu keadaannya. Aku sedang mencari. Ada lowongan di tempatmu ?”

“Aku tidak tahu. Nanti kutanyakan,” perempuan itu menenggak sisa red wine di gelasnya. “Kamu mau nambah Coronanya ?” diliriknya botol kosong di samping piring spring roll yang juga sudah kosong.

“Ya, boleh. Satu, terakhir. Kalau sudah lebih dari empat, aku bisa nggak pulang.” Dia tertawa. Perempuan itu ikut tertawa.

Tiba-tiba perempuan itu mengalihkan pandangannya ke belakang lelaki itu. Ke   arah TV. Sting sedang memulai intro “Every breath you take” dengan manisnya. Perempuan itu seperti terpaku, tidak berkedip. Lelaki itu bertanya-tanya dalam hatinya. Apa lagu itu menggambarkan kesedihan di matanya ? Bisa jadi. Lirik lagu itu dia tahu persis meskipun dia bukan fans beratnya Sting tapi pastinya semua orang kenal lagu itu. Dia ikut memutar badannya ke arah TV dan menikmati lagu tersebut.

Ketika lagunya selesai , lelaki itu mendengar desahan berat di belakangnya. Sepertinya benar. Ada sesuatu yang terjadi dengan isi lagu itu terhadap perempuan ini. Apa dia sedang patah hati ? Apa pacarnya pergi meninggalkan dia ? Atau dia sedang merindukan sebuah cinta lama ? Seperti aku ? Kenapa laki-laki kadang sangat bodohnya meninggikan ego mereka dan melukai sebuah hati yang penuh cinta yang tegas, yang marah , yang kecewa ? Dia laki-laki itu.Dia sadar itu. Dan dia tidak tahu dia akan menemukan cinta itu lagi. Dia tidak tahu. Tidak malam ini.

Dia membalik kea rah perempuan itu.

“Pernah ada film tentang lagu itu. Perempuannya sangat berani,” dia tertawa kecil. Tapi matanya tidak.

“Aku tidak tahu. Ceritanya ?” sahut lelaki itu. Berharap dengan jawaban perempuan itu dia lebih mengenalnya. Dia sadar, perempuan di depannya ini mulai menarik hatinya, dengan sikapnya yang hati-hati tapi bisa menyampaikan candaan kering yang sangat menggelitik. Terutama mata indahnya membuat rindunya serasa terobati.

“Seperti isi lagu itu. Seorang perempuan sangat mencintai seorang lelaki yang akhirnya menjadi obsesif dan abusive, Sad ending. Perempuan itu membunuh lelaki yang dicintainya. Aneh bukan ?’ dia tertawa.

Lelaki itu mengangguk-angguk. Cinta memang aneh. Dan kita menikmati setiap keanehan yang kita alami.

“Tapi aku tidak seberani perempuan dalam film itu,” dia mengalihkan pandangannya kembali ke TV. Sting telah selesai, berganti dengan hip hop.

“Membunuh lelaki yang kamu cintai ?” tanya lelaki itu bodoh.

Perempuan itu tertawa. Cukup keras yang membuat beberapa tamu menoleh ke aras mereka. Ditutupi mulutnya dengan kedua tangannya.

“Aku ? Aku tidak akan membunuh lelaki yang kucintai,” matanya menerawang. “Maksudku, aku tidak seberani itu, mengejar cinta seorang lelaki.”

“Hhmm. Kenapa ? Kata orang bijak, cinta itu harus memiliki. Kalau tidak memiliki bukan cinta namanya,” lelaki itu tersenyum ke arahnya. Dan kadang kita menjadi bodoh dan melepaskannya, batinnya.

“Tidak apa-apa. Ada banyak hal yang tidak berani kulakukan dalam hidupku. Bagaimana ya bisa jadi lebih berani ?” tanyanya lugas.

Lelaki itu tertawa kecil. Pertanyaan ini akan menelanjangi dirinya. Belum saatnya. Dia tidak ingin malam ini, perempuan yang mulai menarik hatinya ini meninggalkannya, seperti perempuan satu itu.

“Pertanyaan yang menarik. Aku juga sedang mencari jawabannya,” dia mengetuk-ngetuk pelipisnya.

Perempuan itu tertawa. Hey, kali ini ada sedikit cahaya di mata indah itu.

“Kamu diplomatis ya ? Atau memang tidah tahu ,” dia tertawa lagi.

“Berani itu…hhmm gimana ya ? Aku lihat tikus aja bisa lompat ke meja atau kursi.”

Dan perempuan itu tertawa lagi. Lelaki itu menikmati lama-lama suara tawa yang sengau itu. Matanya yang menyipit dengan bahu terguncang perlahan. Perempuan. Setiap mereka cantik dan indah untuk dipandang . Hanya tidak semua perempuan berani membiarkan orang lain melihatnya. Berani. Ya, betul juga kata perempuan ini. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak berani kita lakukan. Dia juga. Dia tidak berani, belum berani sebenarnya .Untuk kembali ke rumah dan mencium kaki ibunya meminta maaf, belum berani berpikir untuk mencari perempuan mungil bermata indah yang ditinggalkannya karena egonya. Banyak hal dia sendiri tidak berani melakukannya.

Corona ke empat telah memenuhi lambungnya 10 menit yang lalu. Dan gelas wine ke tiga perempuan itu juga sudah hampir habis. Sepertinya dia tidak berniat untuk menghabiskannya, karena sudah setengah jam yang lalu dibiarkannya sisa red wine itu tergeletak di meja. Mereka sudah menghabiskan tambahan satu porsi French fries, satu porsi calamari dan spring roll. Cukup untuk pengganti makan malam.

Perempuan itu pamit ke toilet . Dia mengangguk dan memandangi punggung indah itu berlalu. Ah, sepertinya semua tentang perempuan itu indah di matanya. Dia tersenyum geli membayangkan apa kata Romo Yos kalau dia menceritakan tentang perempuan itu. Romo Yos dengan senyum bijak yang menggodanya akan menanggapi dengan ucapan “ Itu wajar. Yang indah dan cantik sudah lama hilang dari pandanganmu. Kamu harus menyesuaikan dirimu lagi dengan yang indah-indah dan cantik-cantik. “

Dia masih senyum-senyum sendiri ketika perempuan itu kembali.

“Aku pamit dulu ya,” perempuan itu mengulurkan tangannya. Diterimanya genggaman tangan halus dengan kuku-kuku berkuteks coklat muda yang tampak terpelihara baik itu. Digenggamnnya lembut, mengalirkan rasa hangat untuk bisa menembus kehampaan di mata indah itu. Dan perempuan itu tidak berusaha melepaskan cepat-cepat genggaman tangannya.

“Terima kasih sudah menemani ngobrol,” ujar perempuan itu.

“Terima kasih juga sudah membuat aku berpikir untuk mencari jawaban bagaimana menjadi berani.”

Perempuan itu tertawa renyah. Dihirupnya dalam-dalam udara tawa perempuan itu. Melapisi kerinduan rongga-rongga jiwanya akan kelembutan hati, penerimaan yang tidak bercuriga, dan rasa terima kasih yang tulus.

“Kalau kita bertemu kembali, aku harap demikian. Aku akan sudah mempunyai jawabannya,” sahut lelaki itu.

“Baiklah. Sampai ketemu.” Perempuan itu kemudian melangkah keluar.

Dia berdiri memandangi perempuan itu sampai menghilang dari depan café. Dia berharap akan bertemu lagi dengan perempuan itu. Sangat berharap, Dia akan kembali ke café ini di malam berikutnya atau minggu depannya pada hari yang sama. Dia yakin perempuan itu akan ada di sini. Dan dia akan mempunyai jawaban untuk pertanyaan perempuan itu tentang keberanian. Karena dia akan memberanikan diri menceritakan tentang dirinya, seluruhnya kepada perempuan itu. Dia akan berani menerima penolakan perempuan itu karena dia sudah belajar banyak tentang meninggalkan egonya.

***

Dua malam berikutnya, dia kembali lagi ke café itu, berharap akan menemukan perempuan itu duduk di bar dengan secangkir Cabernet Sauvignon. Tapi sampai café itu hampir tutup, dia tidak bertemu dengan perempuan itu. Tidak ada orang yang bisa ditanyakannya karena bartender yang ditemuinya pada malam itu tidak bertugas .

Dia pulang dengan kecewa. Tapi dia sudah belajar untuk berani kembali lagi minggu berikutnya, pada hari yang sama dia bertemu dengan perempuan itu. Kali ini dia tersenyum lega karena setidaknya bartender yang ditemuinya malam pertama dia datang ke café ini sedang bertugas. Dia memilih untuk duduk di bar.

“Apa kabar, Pak ?” sapa bartender itu ramah. “Minum apa , Pak ?”

Lelaki itu tersenyum. “Segelas Cabernet Sauvignon.” Dia ingin mencoba merasakan apa yang dinikmati perempuan itu. Dia belajar bahwa mencoba adalah salah satu keberanian yang harus dijalani.

Bartender itu tersenyum. Lalu menuang ke gelas di depannya.

“Perempuan yang saya ketemu waktu saya ke sini pertama kali itu, masih suka ke sini ?” diberanikannya bertanya ke bartender.

“Oh Mbak Sara ? “ bartender itu terdiam dengan terkejut. Gelas yang sedang dilapnya dibiarkan di meja bar.

“Ya, Sara,” Lelaki itu mengangguk. Dia baru tahu perempuan itu bernama Sara. Mereka tidak pernah menyebutkan nama masing-masing. Dan sepertinya mereka berdua tidak ingin saling bertanya malam itu karena banyak hal. Dia sendiri belum berani untuk membiarkan perempuan itu tahu tentang dia ketika mereka bertemu malam itu. Terlalu riskan . Dan kalaupun pada akhirnya mereka tidak pernah bertemu, dia tidak akan menyesali pertemuan mereka. Karena setelah malam itu dia sudah berjanji untuk membiarkan perempuan itu mengenalnya seutuhnya, tidak ada yang akan ditutupinya. Dia biarkan nasib yang akan mempertemukan mereka kembali . Dia pernah membaca satu quote yang mengatakan bahwa apapun yang harus terjadi terhadap kita, akan menemukan jalannya untuk terjadi, bagaimanapun kita melarikan diri dari hal itu.

“Bapak tidak membaca atau dengar berita ?’ sahut si bartender.

Dia menggeleng. Tidak ada TV di kontrakannya dan dia jarang browsing. Seminggu ini dia lebih sering ke tempat beberapa temannya dan ke kantor lamanya untuk melihat peluang mendapatkan pekerjaan . Dan dua hari yang lalu dia kembali ke rumah ibunya untuk minta maaf atas semua yang pernah dilakukannya yang telah membuat patah hati ibunya.

“Berita apa ?”

Bartender menatapnya dengan pandangan sedih. Aneh, pikir lelaki itu.

“Mbak Sara sudah meninggal. Dia menjatuhkan diri dari apartemennya di lantai 10.”

Serasa ada satu pukulan tinju yang sangat telat menyambar rahangnya. Dia merasa seluruh giginya rontok. Rahangnya patah. Matanya berkunang-kunang. Perempuan itu ? Perempuan menarik dengan suara sengau indah dan pancaran mata sedih ? kenapa dia tidak lebih berani waktu itu ? Kenapa dia tidak menahan perempuan itu untuk mengobrol lebih lama, dan tahu bahwa dia menyimpan satu kesedihan yang amat dalam ? Apa ada yang tahu kesedihannya ? Apa tidak ada orang yang menolongnya ?

Dan tanpa bertanya lebih lanjut, bartender itu menceritakan kejadian yang menimpa Sara, perempuan itu, dari berita yang dia baca. Sara diputuskan kekasihnya saat mereka sudah berencana akan menikah. Kabar yang terdengar bahwa kekasihnya berselingkuh. Sebulan sebelum kejadian itu, menurut teman-temannya, Sara sangat stress berat. Mungkin itu yang membuatnya mengambil keputusan nekat itu.

Tapi hal itu tidak lagi penting buat lelaki itu. Dia hanya mendengar bahwa perempuan itu sudah meninggal. Dia tidak akan pernah bertemu dengan perempuan itu lagi. Dia tidak akan mempunyai kesempatan untuk memberanikan diri mengungkapkan keadaannya kepada perempuan itu. Perempuan yang telah membuatnya lebih bertekat untuk berani berubah. Dia tidak akan pernah tahu bagaimana perubahan di raut wajah perempuan itu ketika dia menceritakan bahwa pada malam mereka bertemu, dia nekat ke café ini, dia beranikan dirinya untuk bertemu dengan orang-orang, untuk menikmati udara bebas yang amat sangat berharga setelah dia terkurung di balik jeruji besi selama 6 bulan untuk suatu keberanian yang bodoh yang pernah dilakukannya karena menolong temannya. Dia menikam seseorang dengan tidak disengaja pada saat terjadi perkelahian dengan teman-temannya. Orang yang ditikamnya tidak mati tapi dia harus membayar keberaniannya yang bodoh itu dengan mendekam di penjara. Kehilangan perempuan mungil yang amat sangat dicintainya, dan membuat ibunya patah hati.

Dalam penjara dia bertemu dengan Romo Yos yang mengajarkannya keberanian yang lain. Bukan keberanian yang nekat, tapi keberanian yang bijaksana dan tegas. Dan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah menjadi berani dengan akal sehat, bukan dengan ego dan emosinya.

Dia sudah merencanakan untuk memberi jawaban tentang pertanyaan perempuan itu dengan kisah hidupnya. Dan dia berharap, perempuan itu belajar hal yang sama. Dia ingin perempuan itu tahu bahwa dia belajar, hidup itu berarti, hidup itu sendiri berarti cara kita belajar untuk berani. Dia tidak pernah tahu bahwa Sara, telah menjalani keberaniannya sendiri.

Lelaki itu memandangi gelas berisi red wine di depannya yang belum disentuhnya. Red wine yang disukai Sara, perempuan yang ditaklukkan ketakutannya sendiri, sebelum tahu jawaban yang akan diberikan lelaki itu.

 

9 Juli 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s