rusty pain

Rusted sheathing nail

Piercing

Tearing apart the delicate naked skin

Slicing slowly

The bare muscles

Penetrating the bones

Releasing its rusty stain

Sting like a thousand bees

Stabbing a wretched pain into the soft heart

For a second, the feelings are being buried alive

Thinking of you…

That unexpected hurt comes to visit

Advertisements

Can We ?

Can we, just you and I, for a while… ?

Look at each other’s eyes as the stars in our own have lost their sparkling beam

Sit side by side and listen to many unspoken words in a heart-wrecking silence, as we have failed to remember how say a simple hello

Hold each other’s hands , as to touch even his little fingers would be an absurd wish

Lose our minds while our sensible desire to hurt each other with ego and self-defense are no longer pampering our pleasure

Give some spaces in out heart to comfort as we cannot live in this grief all by ourselves

Can we, just you and I , for a while…hug each other while watching the half of our soul be given the angel wings and fly back home, leaving us with a lump of breath to continue the life he treasured in us

Can we ?

My story

I stood there
embracing lives
the Joy touched me lightly
as their spirit danced with fire
the Broken heart hugged tightly
releasing their pain through my skin
the Dying laid their empty hands
freeing their soul before going home
I stood there
watching the rain, the sun, the rainbow and the snow
coloring my path with their stories

images

Please, don’t kill my soul

Please, don’t kill my soul
the words that you don’t understand
let them imprint on the ground you walk
blend in the blood of dusk flakes
then, they will become air
breathe a life into many hearts

Please, don’t kill my soul
the story that isn’t yours
let them flow
within teardrops and sweats
of the unfinished dreams
transform secrecy into magic
enliven a journey of desires

Please, don’t kill my soul
Just because you are not living my world

Kampung Naga ( Naga Village )

Among many modern villages in Indonesia, Kampung Naga is a hamlet which still hold the strong tradition of their ancestor. Located between the city of Tasikmalaya and Garut in West Java, to reach the village, we have to go down a stone stairs of around 439 steps. They have no electricity and they keep the total of only 108 people to live in the village. They welcome visitors well , but you have to go down to the village with a local guide who would tell you about the history of the village as well as the do’s and do not’s things an outsider could do around the village.

The 439 steps to go down to the village

The 439 steps to go down to the village

20140830_155149_1

This 70 y/o grandmother, going up dan down 3 times a day through the stairs to see her grands who live outside the village

This 70 y/o grandmother, going up dan down 3 times a day through the stairs to see her grands who live outside the village

The gate into the village

The gate into the village

The house of the village chief

The house of the village chief

The rice barn

The rice barn

They still use the traditional way to clean the padi from its outer layer of skin

They still use the traditional way to clean the padi from its outer layer of skin

The river beside the village.

The river beside the village.

woods for cooking

woods for cooking

A unique wooden table in front of a house on the outside area of the village

A unique wooden table in front of a house on the outside area of the village

This is a small part of heaven

This is a small part of heaven

Sunrise at the peak of Mt.Galunggung

Mt.Galunggung is an active stratovolcano , located around 80km to the east of the small city , Garut, in West Java Indonesia. Its last huge eruption was in 1982 . Now Galunggung is one of the most visited places for the locals. Many come there to watch the sunrise at the peak, and as I have experienced it myself, it was an amazing view. Not to mention that I had to walk up the 620 steep stairs to reach its peak. But after all, it’s worth it.

The 620 stairs

The 620 stairs

The crater

The crater

The sunrise when sun started to wake up, slowly and gracefully

The sunrise when the  sun started to wake up, slowly and gracefully

 

20140831_055434

20140831_05533120140831_060646

absence

I saw you dancing among the clear rain drops

I held out my hands in a rush

you slipped down between my fingers

and disappeared once the wet soil brushes your skin

 

Your smell flashed

I wrestled with the slight wind on my face

on one deep breath, I caught you

but you jumped away

 

The sky has changed her looks

I don’t blink a second to wait for a sunset

I know you will be there

I want to capture your image

and keep you in the shell of my eyes

Ada Banyak Bintang di Langit

“Kamu liat Mars tadi?” . Entah kenapa aku tidak memulai pertanyaan itu dengan pertanyaan biasa berupa ‘halo, apa kabar kamu?’ atau sekadar ‘hai, malam.’ . Tak apalah. Dia tidak pernah keberatan apapun bentuk sapaanku.

Kutunggu lima detik, satu menit. Layar Iphone di tangan kiriku masih kosong. Dan tiba-tiba…

“Nggak ada. Ini aku baru dari luar.”

“Di sini mendung. Aku nggak nunggu karena nggak yakin juga sama beritanya.”

“Di sini nggak mendung. Tapi nggak ada tuh keliatan Mars. “

“Enakan Mars yang dikunyah.”

Aku menerima emoticon sederet gigi putih.

“By the way, aku ketemu Gainman. Follower aja sih.”

Cling. Foto Neil Gainman sedang sesi menadatangani buku terpampang di mukaku.

“IIhh. Ketemu beneran ? Di mana ?”

Gainman salah satu penulis favoritnya. Aku tahu tentang Gainman ketika pertama ngobrol dengannya.

“Oslo, April lalu.”

April. Jadi sudah selama ini kita tidak bertukar cerita.

“Beritamu nggak nyampe sini,” sahutku.

Dia ber he he. “Biasa. Lagi sombong.”

“Yup. Masih untung dapat reply. Nggak dapat ‘lagi malas ngomong. Pengen baca aja.”

“Emang dasarnya aku baik hati.”

“Kalo ke aku sudah kebanyakan sombongnya.”

“Nggak ah, dikit.”

“Banyak banget.”

“Tergantung dari mana sudut pandangmu. Seperti contoh memandang gelas yang berisi air . Apakah kamu melihat setengah penuh atau setengah kosong.”

“Tak apa. Aku melihat kesombonganmu dengan positif.”

“Apalah artinya aku ini. Ngilangnya aku kan nggak berarti apa-apa. Satu orang, negatif, pesimis, kadang sinis. Seperti ketiupnya sebutir debu. Puff. Dan dunia tetap normal. “

“Buat aku nggak.”

“Heh, beneran ? Kenapa nggak ?”

“Ada yang belum kamu selesaikan.” Aku sengaja menggantung ucapanku.

Dia kembali menawarkan muka bulat dengan senyum lebar.

“Kamu tahu aku nggak pernah menyelesaikan sesuatu. Aku selalu pergi. Apa yang pernah aku mulai padamu yang belum kuselesaikan ?”

“Banyak hal.” Kujawab pendek.

“Kenapa kamu menyimpan segitu banyak ? Jangan. Lepaskan saja. Sebentar lagi aku akan menghilang. Seperti sebelumnya. “

“Nanti saja. Setiap kamu kembali, satu-satu akan terselesaikan.”

“Aku nggak tau kapan itu.”

Aku menyengir. Kubiarkan layar Iphone kosong . Untuk beberapa saat aku ingin berpikir tentang dia. Dan hubungan kami. Tapi aneh rasanya kalau kusebut ini suatu hubungan , karena kita berdua hanya saling bertukar cerita lewat layar android masing-masing. Kita tidak pernah saling menelpon. Tidak tahu kenapa. Kita tidak saling bertanya hal itu atau salah satu dari kita berinisiatif untuk menelpon. Tidak pernah. Sampai hari ini.

“Kamu pernah bilang , sebelum setahun , kita ketemu. Dua bulan lagi dua tahun. Waktu yang pendek memang. Kupikir sedikit weird. Kita berdua melihat langit yang sama, dengan bintang yang tidak pernah lebih dari seribu kerlip setiap malam , menikmati hujan yang sekarang ini tidak pernah bisa diprediksi datangnya. Semau-maunya, seperti kamu. Hehehe. Tapi tetap saja kita tidak punya waktu untuk ketemu. Ralat, kamu tidak punya waktu.” Kukibas-kibas jari-jariku yang ketekan.

Read. Tapi dia belum menjawab. Untuk beberapa detik. Kutunggu.

“Jadwalku super padat.”

Kukirim emoticon senyum tipis. Dengan dia percuma untuk memainkan sedikit drama karena dia tahu aku tidak pandai untuk itu. Dan dia juga tidak pernah bermanis-manis ‘bicara’ padaku. Lebih sering sinis, tajam, dan sangat blak-blakkan. Jadi aku tidak mempertanyakan jawabannya itu.

Kalau dia bilang super padat, berarti begitu adanya. Dalam arti bahwa dia sedang menikmati musim malas untuk menemui siapa-siapa, atau mungkin saja hanya aku. Entah. Aku tidak mau bertanya.

“Apa kabar cewek berambut panjang lurus, dengan hidung mungil itu ?”

“Yang mana ?” disertai emoticon .

Aku tertawa. Pastinya dia lupa . Mungkin saja sudah berganti perempuan yang sedang dia nikmati keberadaannya saat ini.

“Yang kamu bilang wajahnya mirip Maggie Q. Masa lupa ?”

Kling. Aku menerima sebentuk senyum dengan gigi putih bederet.

“Tidak lupa Aku tidak tahu apa kabarnya sekarang. Kenapa ? Kok tiba-tiba nanya dia ?”

“Karena dia cewek terakhir yang kamu cerita pada saat terakhir kita ngobrol.”

“Oh.”

Kalau jawabannya pendek seperti itu berarti dia sudah kehabisan bahan obrolan, atau dia malas untuk terus mengetik .

“Ok. Ini menyalahi kebiasaanku. Aku mau pamit dulu ya.”

Aku tersenyum. Ternyata aku masih hapal tentang dia. Biasanya aku selalu ditinggal tidur dengan masih mengirimnya pesan-pesan panjang tentang hal yang sedang kita bicarakan. Tanpa pamitan. Besoknya dia akan menyapa dengan ‘ketiduran semalam.’

“Tidurlah. See you.”

“Kita ngobrol lagi besok. Kalau mau.”

“Boleh.”

Sepertinya dia sedang kembali ke sini, pikirku. Kembali menjadi seseorang yang dengan meyenangkan bercerita tentang buku terakhir Gainman yang dibacanya, film terbaru di bioskop yang baru saja ditontonnya, atau hanya tentang senja yang ditemuinya saat macet di jalan toll . Atau saat bercerita tentang bunga liar yang ditemuinya di depan rumah kliennya , dan dikirimnya aku foto hasil jepretan buru-buru, dia adalah lelaki yang sangat menyenangkan.

Aku pernah bertanya kenapa seseorang dengan cara pandang akan suatu kejadian sosial dengan amat keras dan negatif , bisa sangat manis bercerita tentang bunga liar. Jawabnya, aku suka yang nggak biasa. Dan bunga liar itu indah. Dari sudut manapun kamu melihatnya. Cobalah .

Kuikuti sarannya. Dan benar. Aku menikmati keindahan bunga-bunga kecil yang kutemui di antara tanaman liar, entah itu di pinggir jalan atau di halaman rumah orang. Dan ketika aku menceritakan padanya, dia hanya menjawab pendek ‘good for you then’.

Sependek sapaannya malam ini.

“Ada yang menyenangkan?”

“Banyak hal.”

“Apa tuh ?”

“Salah satunya ? Kamu kembali.”

Aku menerima tawa si kepala kuning.

“Aku tidak pernah pergi. Hanya menghilang sesaat. Ayolah, pasti ada banyak lainnya.”

Dan seperti biasa, saat aku mengobrol bersama dia, aku menceritakan apa saja yang terlintas di kepalaku. Tidak terasa sudah sejam berlalu , ketika dia tiba-tiba mengirim pesan, “Heh, banyak bintang malam ini. Liat deh.”

“Kamu di mana ?”

“Teras lantai atas. Ayo cepat , nanti keburu menghilang kamu nyesel.”

Aku tertawa. “Ya nggaklah. Nggak mendung malam ini. Ok , aku keluar.”

Aku melangkah ke teras depan rumah dan memandang ke kegelapan langit. Benar. Banyak bintang malam ini. Indah. Aku tersenyum sendiri dan kembali ke dalam.

“Aku mau nanya lagi pertanyaan kemarin.”

“Nanya aja,” sahutnya pendek.

“Kok alasannya hanya jadwalmu super padat ? Kok padatnya hampir dua taon ?” Sengaja kuulang pertanyaan itu karena aku masih penasaran. Jawabannya kemarin menggelitik perasaanku. Kalau dia menganggap aku sebagai temannya, masa dalam waktu dua tahun tidak ada tersisihkan waktu sejam pun untuk menemuiku.

“Ada beberapa hal yang membuatku menghindar untuk ketemu kamu.”

Aku kaget. Ternyata feelingku benar. Pasti ada alasan yang lebih dari itu.

“Banyak hal ? hehe. Ok, salah satunya, coba kutebak. Kamu kuatir aku nggak punya muka ya ?”

Dia mengirimku hahaha yang panjang.

“Nggaklah. Kan ada dp mu. Itupun kalau asli ya.”

“Tergantung persepsi orang yang liatlah,” sahutku.

“Serius. Hal apa ?” desakku.

“Nggak ada hal lain yang perlu kita obrolin?” dia mengelak.

“Sudah banyak kan tadi. Sebelum kamu pamitan, mending kamu kasih tahu deh.”

Ada jeda diam beberapa saat. Aku melihat box chatnya tertera dia sedang mengetik tapi kata-kata yang diketiknya belum juga muncul di screen. Duuh, nih orang. Aku sedikit gelisah. Aku tidak bisa berpikir apa-apa tentang alasannya untuk tidak bertemu denganku. Aku tidak tahu. Otakku serasa kehilangan hormon kortisol untuk merangsang sel saraf agar membuatku berpikir.

“Kamu tau kan aku tidak pernah tinggal lama ?”

“Ya.” Aku buru-buru menjawab. Duh. Seharusnya aku tidak terlalu bereaksi. Biarkan saja dia bercerita tanpa dipotong.

“Dan aku tidak mau tinggal juga sebenarnya. Jiwaku selalu bergerak. Berubah. Aku tidak mau membuat seseorang berharap untuk aku tetap tinggal. Aku cuma bisa singgah sebentar.”

Aku makin bingung mendengar penjelasannya. Kalau hal itu aku sudah tahu. Dia amat sangat berjiwa bebas. Sebebas burung liar. Dia hanya punya sangkar kecil di pohon yang disinggahinya pada suatu tempat. Dia tinggal beberapa saat di situ dan terbang lagi. Entah apa yang dia cari. Pernah dia bilang, aku mencari yang tidak ada, entah apa. Dia sangat filosofis yang kadang membuat aku sendiri bingung. Tapi dengan dia, untuk hal-hal yang aku tidak mengerti, aku biarkan saja apa adanya.

“Apa hubungannya dengan menemui aku ?” Aku tidak sabaran menunggu jeda diamnya lebih lama lagi.

Si kepala kuning tersenyum lebar di screen Iphoneku.

“Aku jatuh cinta sama kamu.”

Aku amat sangat kaget. Kutarik nafas perlahan.

“Kalau kamu mau tahu sejak kapan ? Sejak kita pertama kali ngobrol. Ingat kan aku bilang kamu seorang perempuan yang menarik ? Kamu aneh, kamu bilang. Tapi itulah yang menarik dari kamu. Dan tanpa bisa kucegah aku jatuh cinta sama kamu. Kamu sendiri tahu, banyak sekali perempuan yang ada dalam lingkaran hidupku, tapi aku tidak pernah jatuh cinta sama mereka. Dan ini membuatku tidak nyaman. Amat sangat. Karena aku tahu, kalau aku menemui kamu, aku akan menyakiti kamu karena aku tidak bisa tinggal. Dan kamu akan menunggu, berharap. Dan itu akan menyakitkan. Jadi aku pikir, lebih baik seperti saat ini. Kita tidak pernah saling bertemu. Dengan begitu, tidak ada yang akan tersimpan dalam memori otak kita. Kamu tau kan, bertemu bertatap mata lain dengan hanya mengobrol seperti kita saat ini. Image yang akan tersimpan akan lebih sulit untuk disingkirkan. Dan aku tidak mau hal itu terjadi, pada diriku. Pada kamu. Aku egois, ya. Aku jahat, bisa juga. Apa saja boleh kamu label kan buat aku, tapi yang pasti, kalau aku tidak pernah melihatmu , aku akan selalu bisa kembali padamu. “

Aku merasa jantungku berdetak sangat cepat. Secepat bintang jatuh. Jemariku tidak bergerak menekan satu hurufpun. Dalam kediaman yang seakan mematikan semua yang hidup di sekelilingku, aku hanya tergugu membaca kembali, berkali-kali , kata-kata yang dia kirim.

Mungkin lebih baik seperti ini. Seperti yang dia katakan. Kita tidak pernah bertemu. Walaupun aku ingin menikmati caranya bicara, suaranya, bagaimana dia tertawa seperti tulisan haha yang panjang di chat box, melihat bentuk senyum sinisnya ketika mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikiran idealisnya, atau hanya merekam senyum datarnya dengan mata yang menyipit. Mungkin dia benar. Akan ada harapan yang disimpan, disadari atau tidak . Dan akan ada yang kecewa, suka atau tidak suka.

“Ok.” Dan kupencet send. Aku tidak tahu kenapa hanya itu reaksiku. Jemariku masih mati rasa .

“jangan kuatir. Aku ada sekarang. Dan kita masih bisa melihat ribuan bintang bersama. Kamu dengan langitmu dan aku dengan langitku. Dan kita akan obrolin itu sampai aku tertidur, seperti biasa.” Dia akhiri dengan dua tertawa kecil.

Aku tertawa tanpa suara. Semua pertanyaan yang kusimpan sudah terjawab. Seperti memandang ribuan bintang yang aku dan dia dapat nikmati pada saat yang sama, masih banyak cerita yang akan saling kita bagi, pada langit yang berbeda.

Selama apapun kita tidak akan saling menatap wajah masing-masing, aku berharap dia memenuhi janjinya yang ini, dia akan selalu kembali. Karena aku juga jatuh cinta padanya.

I wish you could stay , but you can’t

I wish you could stay but you can’t

Even though my light is in your sun

And my image is in your stars

 

I wish you could stay but you can’t

We haven’t finished the 100 love sonnet

Thousand of words still left unsaid

The trail of our path is not a road yet

 

I wish you could stay but you can’t

I know it’s coming , still I stop breathing for a while

“I can’t stay but you will never lose me”

“We’ll dance at the first sight of the dawn you see”

“The scent of your smile will I carry in me”

 

I wish you could stay but you can’t

You are a free spirit

Your mind is the sky

Your heart is the ocean

Your soul is the universe

Who else could hold you

but God Himself ?

 

I wish you could stay but you can’t