Ada Banyak Bintang di Langit

“Kamu liat Mars tadi?” . Entah kenapa aku tidak memulai pertanyaan itu dengan pertanyaan biasa berupa ‘halo, apa kabar kamu?’ atau sekadar ‘hai, malam.’ . Tak apalah. Dia tidak pernah keberatan apapun bentuk sapaanku.

Kutunggu lima detik, satu menit. Layar Iphone di tangan kiriku masih kosong. Dan tiba-tiba…

“Nggak ada. Ini aku baru dari luar.”

“Di sini mendung. Aku nggak nunggu karena nggak yakin juga sama beritanya.”

“Di sini nggak mendung. Tapi nggak ada tuh keliatan Mars. “

“Enakan Mars yang dikunyah.”

Aku menerima emoticon sederet gigi putih.

“By the way, aku ketemu Gainman. Follower aja sih.”

Cling. Foto Neil Gainman sedang sesi menadatangani buku terpampang di mukaku.

“IIhh. Ketemu beneran ? Di mana ?”

Gainman salah satu penulis favoritnya. Aku tahu tentang Gainman ketika pertama ngobrol dengannya.

“Oslo, April lalu.”

April. Jadi sudah selama ini kita tidak bertukar cerita.

“Beritamu nggak nyampe sini,” sahutku.

Dia ber he he. “Biasa. Lagi sombong.”

“Yup. Masih untung dapat reply. Nggak dapat ‘lagi malas ngomong. Pengen baca aja.”

“Emang dasarnya aku baik hati.”

“Kalo ke aku sudah kebanyakan sombongnya.”

“Nggak ah, dikit.”

“Banyak banget.”

“Tergantung dari mana sudut pandangmu. Seperti contoh memandang gelas yang berisi air . Apakah kamu melihat setengah penuh atau setengah kosong.”

“Tak apa. Aku melihat kesombonganmu dengan positif.”

“Apalah artinya aku ini. Ngilangnya aku kan nggak berarti apa-apa. Satu orang, negatif, pesimis, kadang sinis. Seperti ketiupnya sebutir debu. Puff. Dan dunia tetap normal. “

“Buat aku nggak.”

“Heh, beneran ? Kenapa nggak ?”

“Ada yang belum kamu selesaikan.” Aku sengaja menggantung ucapanku.

Dia kembali menawarkan muka bulat dengan senyum lebar.

“Kamu tahu aku nggak pernah menyelesaikan sesuatu. Aku selalu pergi. Apa yang pernah aku mulai padamu yang belum kuselesaikan ?”

“Banyak hal.” Kujawab pendek.

“Kenapa kamu menyimpan segitu banyak ? Jangan. Lepaskan saja. Sebentar lagi aku akan menghilang. Seperti sebelumnya. “

“Nanti saja. Setiap kamu kembali, satu-satu akan terselesaikan.”

“Aku nggak tau kapan itu.”

Aku menyengir. Kubiarkan layar Iphone kosong . Untuk beberapa saat aku ingin berpikir tentang dia. Dan hubungan kami. Tapi aneh rasanya kalau kusebut ini suatu hubungan , karena kita berdua hanya saling bertukar cerita lewat layar android masing-masing. Kita tidak pernah saling menelpon. Tidak tahu kenapa. Kita tidak saling bertanya hal itu atau salah satu dari kita berinisiatif untuk menelpon. Tidak pernah. Sampai hari ini.

“Kamu pernah bilang , sebelum setahun , kita ketemu. Dua bulan lagi dua tahun. Waktu yang pendek memang. Kupikir sedikit weird. Kita berdua melihat langit yang sama, dengan bintang yang tidak pernah lebih dari seribu kerlip setiap malam , menikmati hujan yang sekarang ini tidak pernah bisa diprediksi datangnya. Semau-maunya, seperti kamu. Hehehe. Tapi tetap saja kita tidak punya waktu untuk ketemu. Ralat, kamu tidak punya waktu.” Kukibas-kibas jari-jariku yang ketekan.

Read. Tapi dia belum menjawab. Untuk beberapa detik. Kutunggu.

“Jadwalku super padat.”

Kukirim emoticon senyum tipis. Dengan dia percuma untuk memainkan sedikit drama karena dia tahu aku tidak pandai untuk itu. Dan dia juga tidak pernah bermanis-manis ‘bicara’ padaku. Lebih sering sinis, tajam, dan sangat blak-blakkan. Jadi aku tidak mempertanyakan jawabannya itu.

Kalau dia bilang super padat, berarti begitu adanya. Dalam arti bahwa dia sedang menikmati musim malas untuk menemui siapa-siapa, atau mungkin saja hanya aku. Entah. Aku tidak mau bertanya.

“Apa kabar cewek berambut panjang lurus, dengan hidung mungil itu ?”

“Yang mana ?” disertai emoticon .

Aku tertawa. Pastinya dia lupa . Mungkin saja sudah berganti perempuan yang sedang dia nikmati keberadaannya saat ini.

“Yang kamu bilang wajahnya mirip Maggie Q. Masa lupa ?”

Kling. Aku menerima sebentuk senyum dengan gigi putih bederet.

“Tidak lupa Aku tidak tahu apa kabarnya sekarang. Kenapa ? Kok tiba-tiba nanya dia ?”

“Karena dia cewek terakhir yang kamu cerita pada saat terakhir kita ngobrol.”

“Oh.”

Kalau jawabannya pendek seperti itu berarti dia sudah kehabisan bahan obrolan, atau dia malas untuk terus mengetik .

“Ok. Ini menyalahi kebiasaanku. Aku mau pamit dulu ya.”

Aku tersenyum. Ternyata aku masih hapal tentang dia. Biasanya aku selalu ditinggal tidur dengan masih mengirimnya pesan-pesan panjang tentang hal yang sedang kita bicarakan. Tanpa pamitan. Besoknya dia akan menyapa dengan ‘ketiduran semalam.’

“Tidurlah. See you.”

“Kita ngobrol lagi besok. Kalau mau.”

“Boleh.”

Sepertinya dia sedang kembali ke sini, pikirku. Kembali menjadi seseorang yang dengan meyenangkan bercerita tentang buku terakhir Gainman yang dibacanya, film terbaru di bioskop yang baru saja ditontonnya, atau hanya tentang senja yang ditemuinya saat macet di jalan toll . Atau saat bercerita tentang bunga liar yang ditemuinya di depan rumah kliennya , dan dikirimnya aku foto hasil jepretan buru-buru, dia adalah lelaki yang sangat menyenangkan.

Aku pernah bertanya kenapa seseorang dengan cara pandang akan suatu kejadian sosial dengan amat keras dan negatif , bisa sangat manis bercerita tentang bunga liar. Jawabnya, aku suka yang nggak biasa. Dan bunga liar itu indah. Dari sudut manapun kamu melihatnya. Cobalah .

Kuikuti sarannya. Dan benar. Aku menikmati keindahan bunga-bunga kecil yang kutemui di antara tanaman liar, entah itu di pinggir jalan atau di halaman rumah orang. Dan ketika aku menceritakan padanya, dia hanya menjawab pendek ‘good for you then’.

Sependek sapaannya malam ini.

“Ada yang menyenangkan?”

“Banyak hal.”

“Apa tuh ?”

“Salah satunya ? Kamu kembali.”

Aku menerima tawa si kepala kuning.

“Aku tidak pernah pergi. Hanya menghilang sesaat. Ayolah, pasti ada banyak lainnya.”

Dan seperti biasa, saat aku mengobrol bersama dia, aku menceritakan apa saja yang terlintas di kepalaku. Tidak terasa sudah sejam berlalu , ketika dia tiba-tiba mengirim pesan, “Heh, banyak bintang malam ini. Liat deh.”

“Kamu di mana ?”

“Teras lantai atas. Ayo cepat , nanti keburu menghilang kamu nyesel.”

Aku tertawa. “Ya nggaklah. Nggak mendung malam ini. Ok , aku keluar.”

Aku melangkah ke teras depan rumah dan memandang ke kegelapan langit. Benar. Banyak bintang malam ini. Indah. Aku tersenyum sendiri dan kembali ke dalam.

“Aku mau nanya lagi pertanyaan kemarin.”

“Nanya aja,” sahutnya pendek.

“Kok alasannya hanya jadwalmu super padat ? Kok padatnya hampir dua taon ?” Sengaja kuulang pertanyaan itu karena aku masih penasaran. Jawabannya kemarin menggelitik perasaanku. Kalau dia menganggap aku sebagai temannya, masa dalam waktu dua tahun tidak ada tersisihkan waktu sejam pun untuk menemuiku.

“Ada beberapa hal yang membuatku menghindar untuk ketemu kamu.”

Aku kaget. Ternyata feelingku benar. Pasti ada alasan yang lebih dari itu.

“Banyak hal ? hehe. Ok, salah satunya, coba kutebak. Kamu kuatir aku nggak punya muka ya ?”

Dia mengirimku hahaha yang panjang.

“Nggaklah. Kan ada dp mu. Itupun kalau asli ya.”

“Tergantung persepsi orang yang liatlah,” sahutku.

“Serius. Hal apa ?” desakku.

“Nggak ada hal lain yang perlu kita obrolin?” dia mengelak.

“Sudah banyak kan tadi. Sebelum kamu pamitan, mending kamu kasih tahu deh.”

Ada jeda diam beberapa saat. Aku melihat box chatnya tertera dia sedang mengetik tapi kata-kata yang diketiknya belum juga muncul di screen. Duuh, nih orang. Aku sedikit gelisah. Aku tidak bisa berpikir apa-apa tentang alasannya untuk tidak bertemu denganku. Aku tidak tahu. Otakku serasa kehilangan hormon kortisol untuk merangsang sel saraf agar membuatku berpikir.

“Kamu tau kan aku tidak pernah tinggal lama ?”

“Ya.” Aku buru-buru menjawab. Duh. Seharusnya aku tidak terlalu bereaksi. Biarkan saja dia bercerita tanpa dipotong.

“Dan aku tidak mau tinggal juga sebenarnya. Jiwaku selalu bergerak. Berubah. Aku tidak mau membuat seseorang berharap untuk aku tetap tinggal. Aku cuma bisa singgah sebentar.”

Aku makin bingung mendengar penjelasannya. Kalau hal itu aku sudah tahu. Dia amat sangat berjiwa bebas. Sebebas burung liar. Dia hanya punya sangkar kecil di pohon yang disinggahinya pada suatu tempat. Dia tinggal beberapa saat di situ dan terbang lagi. Entah apa yang dia cari. Pernah dia bilang, aku mencari yang tidak ada, entah apa. Dia sangat filosofis yang kadang membuat aku sendiri bingung. Tapi dengan dia, untuk hal-hal yang aku tidak mengerti, aku biarkan saja apa adanya.

“Apa hubungannya dengan menemui aku ?” Aku tidak sabaran menunggu jeda diamnya lebih lama lagi.

Si kepala kuning tersenyum lebar di screen Iphoneku.

“Aku jatuh cinta sama kamu.”

Aku amat sangat kaget. Kutarik nafas perlahan.

“Kalau kamu mau tahu sejak kapan ? Sejak kita pertama kali ngobrol. Ingat kan aku bilang kamu seorang perempuan yang menarik ? Kamu aneh, kamu bilang. Tapi itulah yang menarik dari kamu. Dan tanpa bisa kucegah aku jatuh cinta sama kamu. Kamu sendiri tahu, banyak sekali perempuan yang ada dalam lingkaran hidupku, tapi aku tidak pernah jatuh cinta sama mereka. Dan ini membuatku tidak nyaman. Amat sangat. Karena aku tahu, kalau aku menemui kamu, aku akan menyakiti kamu karena aku tidak bisa tinggal. Dan kamu akan menunggu, berharap. Dan itu akan menyakitkan. Jadi aku pikir, lebih baik seperti saat ini. Kita tidak pernah saling bertemu. Dengan begitu, tidak ada yang akan tersimpan dalam memori otak kita. Kamu tau kan, bertemu bertatap mata lain dengan hanya mengobrol seperti kita saat ini. Image yang akan tersimpan akan lebih sulit untuk disingkirkan. Dan aku tidak mau hal itu terjadi, pada diriku. Pada kamu. Aku egois, ya. Aku jahat, bisa juga. Apa saja boleh kamu label kan buat aku, tapi yang pasti, kalau aku tidak pernah melihatmu , aku akan selalu bisa kembali padamu. “

Aku merasa jantungku berdetak sangat cepat. Secepat bintang jatuh. Jemariku tidak bergerak menekan satu hurufpun. Dalam kediaman yang seakan mematikan semua yang hidup di sekelilingku, aku hanya tergugu membaca kembali, berkali-kali , kata-kata yang dia kirim.

Mungkin lebih baik seperti ini. Seperti yang dia katakan. Kita tidak pernah bertemu. Walaupun aku ingin menikmati caranya bicara, suaranya, bagaimana dia tertawa seperti tulisan haha yang panjang di chat box, melihat bentuk senyum sinisnya ketika mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikiran idealisnya, atau hanya merekam senyum datarnya dengan mata yang menyipit. Mungkin dia benar. Akan ada harapan yang disimpan, disadari atau tidak . Dan akan ada yang kecewa, suka atau tidak suka.

“Ok.” Dan kupencet send. Aku tidak tahu kenapa hanya itu reaksiku. Jemariku masih mati rasa .

“jangan kuatir. Aku ada sekarang. Dan kita masih bisa melihat ribuan bintang bersama. Kamu dengan langitmu dan aku dengan langitku. Dan kita akan obrolin itu sampai aku tertidur, seperti biasa.” Dia akhiri dengan dua tertawa kecil.

Aku tertawa tanpa suara. Semua pertanyaan yang kusimpan sudah terjawab. Seperti memandang ribuan bintang yang aku dan dia dapat nikmati pada saat yang sama, masih banyak cerita yang akan saling kita bagi, pada langit yang berbeda.

Selama apapun kita tidak akan saling menatap wajah masing-masing, aku berharap dia memenuhi janjinya yang ini, dia akan selalu kembali. Karena aku juga jatuh cinta padanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s