Ada Banyak Bintang di Langit

“Kamu liat Mars tadi?” . Entah kenapa aku tidak memulai pertanyaan itu dengan pertanyaan biasa berupa ‘halo, apa kabar kamu?’ atau sekadar ‘hai, malam.’ . Tak apalah. Dia tidak pernah keberatan apapun bentuk sapaanku.

Kutunggu lima detik, satu menit. Layar Iphone di tangan kiriku masih kosong. Dan tiba-tiba…

“Nggak ada. Ini aku baru dari luar.”

“Di sini mendung. Aku nggak nunggu karena nggak yakin juga sama beritanya.”

“Di sini nggak mendung. Tapi nggak ada tuh keliatan Mars. “

“Enakan Mars yang dikunyah.”

Aku menerima emoticon sederet gigi putih.

“By the way, aku ketemu Gainman. Follower aja sih.”

Cling. Foto Neil Gainman sedang sesi menadatangani buku terpampang di mukaku.

“IIhh. Ketemu beneran ? Di mana ?”

Gainman salah satu penulis favoritnya. Aku tahu tentang Gainman ketika pertama ngobrol dengannya.

“Oslo, April lalu.”

April. Jadi sudah selama ini kita tidak bertukar cerita.

“Beritamu nggak nyampe sini,” sahutku.

Dia ber he he. “Biasa. Lagi sombong.”

“Yup. Masih untung dapat reply. Nggak dapat ‘lagi malas ngomong. Pengen baca aja.”

“Emang dasarnya aku baik hati.”

“Kalo ke aku sudah kebanyakan sombongnya.”

“Nggak ah, dikit.”

“Banyak banget.”

“Tergantung dari mana sudut pandangmu. Seperti contoh memandang gelas yang berisi air . Apakah kamu melihat setengah penuh atau setengah kosong.”

“Tak apa. Aku melihat kesombonganmu dengan positif.”

“Apalah artinya aku ini. Ngilangnya aku kan nggak berarti apa-apa. Satu orang, negatif, pesimis, kadang sinis. Seperti ketiupnya sebutir debu. Puff. Dan dunia tetap normal. “

“Buat aku nggak.”

“Heh, beneran ? Kenapa nggak ?”

“Ada yang belum kamu selesaikan.” Aku sengaja menggantung ucapanku.

Dia kembali menawarkan muka bulat dengan senyum lebar.

“Kamu tahu aku nggak pernah menyelesaikan sesuatu. Aku selalu pergi. Apa yang pernah aku mulai padamu yang belum kuselesaikan ?”

“Banyak hal.” Kujawab pendek.

“Kenapa kamu menyimpan segitu banyak ? Jangan. Lepaskan saja. Sebentar lagi aku akan menghilang. Seperti sebelumnya. “

“Nanti saja. Setiap kamu kembali, satu-satu akan terselesaikan.”

“Aku nggak tau kapan itu.”

Aku menyengir. Kubiarkan layar Iphone kosong . Untuk beberapa saat aku ingin berpikir tentang dia. Dan hubungan kami. Tapi aneh rasanya kalau kusebut ini suatu hubungan , karena kita berdua hanya saling bertukar cerita lewat layar android masing-masing. Kita tidak pernah saling menelpon. Tidak tahu kenapa. Kita tidak saling bertanya hal itu atau salah satu dari kita berinisiatif untuk menelpon. Tidak pernah. Sampai hari ini.

“Kamu pernah bilang , sebelum setahun , kita ketemu. Dua bulan lagi dua tahun. Waktu yang pendek memang. Kupikir sedikit weird. Kita berdua melihat langit yang sama, dengan bintang yang tidak pernah lebih dari seribu kerlip setiap malam , menikmati hujan yang sekarang ini tidak pernah bisa diprediksi datangnya. Semau-maunya, seperti kamu. Hehehe. Tapi tetap saja kita tidak punya waktu untuk ketemu. Ralat, kamu tidak punya waktu.” Kukibas-kibas jari-jariku yang ketekan.

Read. Tapi dia belum menjawab. Untuk beberapa detik. Kutunggu.

“Jadwalku super padat.”

Kukirim emoticon senyum tipis. Dengan dia percuma untuk memainkan sedikit drama karena dia tahu aku tidak pandai untuk itu. Dan dia juga tidak pernah bermanis-manis ‘bicara’ padaku. Lebih sering sinis, tajam, dan sangat blak-blakkan. Jadi aku tidak mempertanyakan jawabannya itu.

Kalau dia bilang super padat, berarti begitu adanya. Dalam arti bahwa dia sedang menikmati musim malas untuk menemui siapa-siapa, atau mungkin saja hanya aku. Entah. Aku tidak mau bertanya.

“Apa kabar cewek berambut panjang lurus, dengan hidung mungil itu ?”

“Yang mana ?” disertai emoticon .

Aku tertawa. Pastinya dia lupa . Mungkin saja sudah berganti perempuan yang sedang dia nikmati keberadaannya saat ini.

“Yang kamu bilang wajahnya mirip Maggie Q. Masa lupa ?”

Kling. Aku menerima sebentuk senyum dengan gigi putih bederet.

“Tidak lupa Aku tidak tahu apa kabarnya sekarang. Kenapa ? Kok tiba-tiba nanya dia ?”

“Karena dia cewek terakhir yang kamu cerita pada saat terakhir kita ngobrol.”

“Oh.”

Kalau jawabannya pendek seperti itu berarti dia sudah kehabisan bahan obrolan, atau dia malas untuk terus mengetik .

“Ok. Ini menyalahi kebiasaanku. Aku mau pamit dulu ya.”

Aku tersenyum. Ternyata aku masih hapal tentang dia. Biasanya aku selalu ditinggal tidur dengan masih mengirimnya pesan-pesan panjang tentang hal yang sedang kita bicarakan. Tanpa pamitan. Besoknya dia akan menyapa dengan ‘ketiduran semalam.’

“Tidurlah. See you.”

“Kita ngobrol lagi besok. Kalau mau.”

“Boleh.”

Sepertinya dia sedang kembali ke sini, pikirku. Kembali menjadi seseorang yang dengan meyenangkan bercerita tentang buku terakhir Gainman yang dibacanya, film terbaru di bioskop yang baru saja ditontonnya, atau hanya tentang senja yang ditemuinya saat macet di jalan toll . Atau saat bercerita tentang bunga liar yang ditemuinya di depan rumah kliennya , dan dikirimnya aku foto hasil jepretan buru-buru, dia adalah lelaki yang sangat menyenangkan.

Aku pernah bertanya kenapa seseorang dengan cara pandang akan suatu kejadian sosial dengan amat keras dan negatif , bisa sangat manis bercerita tentang bunga liar. Jawabnya, aku suka yang nggak biasa. Dan bunga liar itu indah. Dari sudut manapun kamu melihatnya. Cobalah .

Kuikuti sarannya. Dan benar. Aku menikmati keindahan bunga-bunga kecil yang kutemui di antara tanaman liar, entah itu di pinggir jalan atau di halaman rumah orang. Dan ketika aku menceritakan padanya, dia hanya menjawab pendek ‘good for you then’.

Sependek sapaannya malam ini.

“Ada yang menyenangkan?”

“Banyak hal.”

“Apa tuh ?”

“Salah satunya ? Kamu kembali.”

Aku menerima tawa si kepala kuning.

“Aku tidak pernah pergi. Hanya menghilang sesaat. Ayolah, pasti ada banyak lainnya.”

Dan seperti biasa, saat aku mengobrol bersama dia, aku menceritakan apa saja yang terlintas di kepalaku. Tidak terasa sudah sejam berlalu , ketika dia tiba-tiba mengirim pesan, “Heh, banyak bintang malam ini. Liat deh.”

“Kamu di mana ?”

“Teras lantai atas. Ayo cepat , nanti keburu menghilang kamu nyesel.”

Aku tertawa. “Ya nggaklah. Nggak mendung malam ini. Ok , aku keluar.”

Aku melangkah ke teras depan rumah dan memandang ke kegelapan langit. Benar. Banyak bintang malam ini. Indah. Aku tersenyum sendiri dan kembali ke dalam.

“Aku mau nanya lagi pertanyaan kemarin.”

“Nanya aja,” sahutnya pendek.

“Kok alasannya hanya jadwalmu super padat ? Kok padatnya hampir dua taon ?” Sengaja kuulang pertanyaan itu karena aku masih penasaran. Jawabannya kemarin menggelitik perasaanku. Kalau dia menganggap aku sebagai temannya, masa dalam waktu dua tahun tidak ada tersisihkan waktu sejam pun untuk menemuiku.

“Ada beberapa hal yang membuatku menghindar untuk ketemu kamu.”

Aku kaget. Ternyata feelingku benar. Pasti ada alasan yang lebih dari itu.

“Banyak hal ? hehe. Ok, salah satunya, coba kutebak. Kamu kuatir aku nggak punya muka ya ?”

Dia mengirimku hahaha yang panjang.

“Nggaklah. Kan ada dp mu. Itupun kalau asli ya.”

“Tergantung persepsi orang yang liatlah,” sahutku.

“Serius. Hal apa ?” desakku.

“Nggak ada hal lain yang perlu kita obrolin?” dia mengelak.

“Sudah banyak kan tadi. Sebelum kamu pamitan, mending kamu kasih tahu deh.”

Ada jeda diam beberapa saat. Aku melihat box chatnya tertera dia sedang mengetik tapi kata-kata yang diketiknya belum juga muncul di screen. Duuh, nih orang. Aku sedikit gelisah. Aku tidak bisa berpikir apa-apa tentang alasannya untuk tidak bertemu denganku. Aku tidak tahu. Otakku serasa kehilangan hormon kortisol untuk merangsang sel saraf agar membuatku berpikir.

“Kamu tau kan aku tidak pernah tinggal lama ?”

“Ya.” Aku buru-buru menjawab. Duh. Seharusnya aku tidak terlalu bereaksi. Biarkan saja dia bercerita tanpa dipotong.

“Dan aku tidak mau tinggal juga sebenarnya. Jiwaku selalu bergerak. Berubah. Aku tidak mau membuat seseorang berharap untuk aku tetap tinggal. Aku cuma bisa singgah sebentar.”

Aku makin bingung mendengar penjelasannya. Kalau hal itu aku sudah tahu. Dia amat sangat berjiwa bebas. Sebebas burung liar. Dia hanya punya sangkar kecil di pohon yang disinggahinya pada suatu tempat. Dia tinggal beberapa saat di situ dan terbang lagi. Entah apa yang dia cari. Pernah dia bilang, aku mencari yang tidak ada, entah apa. Dia sangat filosofis yang kadang membuat aku sendiri bingung. Tapi dengan dia, untuk hal-hal yang aku tidak mengerti, aku biarkan saja apa adanya.

“Apa hubungannya dengan menemui aku ?” Aku tidak sabaran menunggu jeda diamnya lebih lama lagi.

Si kepala kuning tersenyum lebar di screen Iphoneku.

“Aku jatuh cinta sama kamu.”

Aku amat sangat kaget. Kutarik nafas perlahan.

“Kalau kamu mau tahu sejak kapan ? Sejak kita pertama kali ngobrol. Ingat kan aku bilang kamu seorang perempuan yang menarik ? Kamu aneh, kamu bilang. Tapi itulah yang menarik dari kamu. Dan tanpa bisa kucegah aku jatuh cinta sama kamu. Kamu sendiri tahu, banyak sekali perempuan yang ada dalam lingkaran hidupku, tapi aku tidak pernah jatuh cinta sama mereka. Dan ini membuatku tidak nyaman. Amat sangat. Karena aku tahu, kalau aku menemui kamu, aku akan menyakiti kamu karena aku tidak bisa tinggal. Dan kamu akan menunggu, berharap. Dan itu akan menyakitkan. Jadi aku pikir, lebih baik seperti saat ini. Kita tidak pernah saling bertemu. Dengan begitu, tidak ada yang akan tersimpan dalam memori otak kita. Kamu tau kan, bertemu bertatap mata lain dengan hanya mengobrol seperti kita saat ini. Image yang akan tersimpan akan lebih sulit untuk disingkirkan. Dan aku tidak mau hal itu terjadi, pada diriku. Pada kamu. Aku egois, ya. Aku jahat, bisa juga. Apa saja boleh kamu label kan buat aku, tapi yang pasti, kalau aku tidak pernah melihatmu , aku akan selalu bisa kembali padamu. “

Aku merasa jantungku berdetak sangat cepat. Secepat bintang jatuh. Jemariku tidak bergerak menekan satu hurufpun. Dalam kediaman yang seakan mematikan semua yang hidup di sekelilingku, aku hanya tergugu membaca kembali, berkali-kali , kata-kata yang dia kirim.

Mungkin lebih baik seperti ini. Seperti yang dia katakan. Kita tidak pernah bertemu. Walaupun aku ingin menikmati caranya bicara, suaranya, bagaimana dia tertawa seperti tulisan haha yang panjang di chat box, melihat bentuk senyum sinisnya ketika mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikiran idealisnya, atau hanya merekam senyum datarnya dengan mata yang menyipit. Mungkin dia benar. Akan ada harapan yang disimpan, disadari atau tidak . Dan akan ada yang kecewa, suka atau tidak suka.

“Ok.” Dan kupencet send. Aku tidak tahu kenapa hanya itu reaksiku. Jemariku masih mati rasa .

“jangan kuatir. Aku ada sekarang. Dan kita masih bisa melihat ribuan bintang bersama. Kamu dengan langitmu dan aku dengan langitku. Dan kita akan obrolin itu sampai aku tertidur, seperti biasa.” Dia akhiri dengan dua tertawa kecil.

Aku tertawa tanpa suara. Semua pertanyaan yang kusimpan sudah terjawab. Seperti memandang ribuan bintang yang aku dan dia dapat nikmati pada saat yang sama, masih banyak cerita yang akan saling kita bagi, pada langit yang berbeda.

Selama apapun kita tidak akan saling menatap wajah masing-masing, aku berharap dia memenuhi janjinya yang ini, dia akan selalu kembali. Karena aku juga jatuh cinta padanya.

Advertisements

Lunch Box ( flash fiction )

He waited impatiently and feeling anxious at the same time. His palms started to sweat . He did not know it’s for joy or nervous. It felt like a cold feet one. Yup. That was it. ‘What if’ was shooting his head. What if she answered the call and he was speechless .

The Samsung in his palm felt a bit greasy . He put it onto the left hand and rubbed his right palm against  his T-Shirt. He didn’t pay attention to the sweet eagle eyes in front of him. He was too anxious to think about anything else except for what would the girl say when she answered the call in any  seconds now.

“Why does it take so long ?” he got more impatient.

“Easy, champ. Maybe she hasn’t heard it.”

“My heart is thumping,” he said in a whisper to the woman who was sitting in front of him. He wondered, why he didn’t feel like this when he talked to Alvian.

The woman felt a sudden pull around her mouth. She desperately wanted to laugh it out but she held herself nicely , and instead, she smiled wildly wide.

All of a sudden, the round cute face with blushing cheeks in front of her became tense.

“Uuhh ehh …” he answered a hello he heard over the phone.

“Go on…”

With his heart was thumping faster, he replied.

“Hello Beatrice, this is Toara.” He glanced at his mother who was holding up a thumb towards him.

“Hmm..I just want to say thank you. You have shared me your lunch. Mommy forgot that it was not the lunch together day.” He gave his mother a giggle. He was blushing all over.

“That’s all. Bye…” he gave the mobile to his mother and ran outside. The mission was accomplished. Actually he already said thank you to Beatrice at school.He just wanted to hear that sweet voice once again . That nice little girl with Princess Elsa hairstyle had shared her peanut butter bread with him at lunch time.

INDONESIAN

Dia menunggu dengan rasa yang tidak karuan. Tangannya mulai basah oleh keringat. Entah keringat senang atau keringat gugup. Sepertinya keringat panik. Ya tepatnya itu. Panik kalau deringan di ujung sana disahutin  dan dia tidak bisa berkata-kata. 

Samsung di tangannya mulai agak licin karena basah. Diopernya ke tangan kirinya lalu menggosok-gosok telapak kanannya ke T-Shirt tanpa peduli pelototin manis di depannya. Dia terlalu gugup untuk memikirkan hal lainnya selain membayangi kata apa yang akan diucapkan cewek berkuncir itu saat menjawabnya dalam beberapa detik mendatang.

“Kok lama ya ?” dia mulai tidak sabaran.

“Sebentar lagi. Mungkin dia nggak dengar.”

“Hati aku kejeduk-kejeduk, ” dia berkata seperti bunyi bisikan ke perempuan yang  duduk di depannya. Heran, kenapa kalau ngobrol sama Alvian hatinya nggak berasa kaya gini ya.

Perempuan di depannya merasakan tarikan tiba-tiba di seputar mulut dan pipinya. Dia ingin tertawa geli  tapi ditahannya . Alhasil dia hanya tersenyum amat sangat lebar sambil  mengangguk-angguk.

Tiba-tiba wajah bulat dengan pipi merona merah di depannya mendadak tegang. 

“Uuuhhh eeh…” dijawabnya dengan gugup sahutan halo di kupingnya.

“Ayoo…” 

Dengan hati yang tambah  kejeduk-kejeduk, disahutinya suara bening itu.

“Halo Beatrice. Ini Toara.” Dilirik Mamanya yang mengacungkan jempol sambil tersenyum manis kepadanya.

“Eehhh…aku mau bilang terima kasih, tadi kamu sudah share ke aku roti kamu. Soalnya Mamaku lupa hari ini nggak ada makan bersama.” Dia tersenyum malu ke arah Mamanya. Pipinya bersemu merah. 

“Udah ya. Byee..” diserahkannya Samsung di tangannya ke Mamanya lalu berlari keluar . Misinya telah selesai. Dia hanya ingin mendengar suara  Beatrice setelah tadi, gadis kecil berkuncir princess Elsa itu berbaik hati membagi lunch box dengannya. Padahal tadi di sekolah dia sudah bilang terima kasih.  

Fantasy

She shyly smiled while arranging the ironed clothes. She couldn’t wait till the afternoon . The very dry and hot temperature stung into the house, pierced through the thick wall and the wide opened windows, stroke every naked skin ; the face, the arms. But it seemed the sultry weather that annoyed everyone didn’t bother her a bit . Though she continued to wipe her forehead with a hand towel that was always in her pocket ( mother told her to be clean and neat all the time ), her whole body felt cool, like it was sprung with cold water every 10 minutes.

Her smile grew wider when she remembered that face with thick eyebrow and Neymar’s hair style, said hello to her for the first time.

One morning when she was walking Jupiter with Mbak Tya * , they met that young man with Neymar’s hair , near the pool at their neighborhood complex. When they met, the man stopped, smiled at them and said “good morning.”

At first, Ina didn’t pay much attention to the man but because of Tya stopped and replied to his greeting, Ina glanced at him whose face was sweating. Ouch. Suddenly Ina felt her heart beat faster when he gave her a hand shake and said his name.

“I am Ru. What a beautiful Golden you have here,” he bent down and stroke Jupiter’s head. Jupiter who enjoyed a stroke on his head immediately sank down to the ground

Ru. Cute name, thought Ina.

She and Tya said their names.

“Marianna. Just call me Ina.”

Neymar eh Ru smiled. What a nice smile . Again she felt her heart beat went on a sky rocket blast .Dooh , what is it ?

“Beautiful name. Why just Ina ? “

“It easier to remember ,” Tya laughed softly. Ina did too.

They chatted briefly while Ru affectionately stroke Jupiter’s head. Jupiter was starting to feel sleepy. Ina pulled off his chain so Jupiter would not fall asleep. If he did, who would be able to drag his big and heavy body ?

“We are neighbor then. I live two blocks from yours, “ said Ru.

“Apparently yes. But two blocks are not really neighbor, just close by,” Ina laughed.

They parted. They wished to see each other again. Ina wished hard. She had taken Jupiter for his morning walk for almost 4 months but just today she met that friendly good looking man . She thought of being more eagerly to walk Jupiter.

And it seemed like their fate had crossed. They met again, incidentally . She was looking around the book shelves when she heard a familiar voice behind her.

“Hi, are you a fan of   Bernard Batubara ?”

Ina glanced over her shoulder , a little bit surprised but then smiled softly. The good looking man with Neymar’s hair was smiling at her. This time his face and hair were sleek. His face was clean, a bit tanned. And his hair was neat. Perhaps he used pomade . Looked more attractive.

“Hi. Ehh, not yet. This is my first time,” she held Surat Untuk Ruth in her palm.

“You should read this. Good novel,” Ru showed up his right thumb .

“You’re a fan ?” Ina looked him curiously . It’s quite odd that a young man like Ru loved love stories.

“Kind of,” Ru laughed. “His love stories are beautiful and sad. Anyway, if I tell you then what’s the need to read the novel ? It won’t be fun. You should experience it yourself.”

Wow. One more good point for this Neymar, thought Ina. Good looking, polite, and he was not reluctant to admit that he loved to read love stories, not only watched football game. Wait, was he a fan of football as well ?

“Bernard’s got some other books. Milana, Cinta, hmm what else ? I forgot. I’ll let you borrow if you like . Actually they’re my sister’s” he whispered . “But you may borrow it. I borrowed the ones I have read from my sister .”

Ina smiled blissfully. “ OK. Sounds good.”

“How is Golden ?” asked Ru by the time they have seated at a café beside the bookstore , enjoyed their mixed fruit ice and tape bakar.

“Jupiter ?” He’s fine and still fall asleep instantly if someone stroke his head.”

Ru laughed. His laugh sounded nice, Ina thought. It’s crispy like eating potato chips , kriiuuk. Suddenly Ina felt uneasy.

“It’s strange that we haven’t met again since that morning at the park,” said Ru.

Ina blushed. Hmm, he seemed to remember their meeting. No wonder, it was only 3 days ago. Ina felt silly.

“I have morning classes. I don’t have much time taking Jupiter for his morning walk.”

“You do ? Where do you go ? My schedule is mostly at noon this semester.”

“Japanese literature at Atmajaya,” said Ina.

“Interesting. You look like you belong there,” Ru teasingly looked at her.

Ina felt her cheeks blushed. “ Why is that ?”

“Your face is like Japanese’s. Porcelain skin, small eyes with straight black hair,” Ru laughed. “Sorry, sometimes I talk harshly but I am just teasing you.”

But Ina didn’t get upset or annoyed. Her face flushed and her heart beat faster than normal. Ru was attractive. His gesture, his voice, the way he talked. It felt good just being with him for hours.

“In fact, you are the one who should be a Japanese. Your name sounds like one,” joked Ina.

Ru laughed. “I am, am I ? Actually my name is Rudolf.” “

“May I call you sometimes later ? Do you mind giving me your pin number ?” Ru asked plainly.

Ina felt flattered. Actually she hoped that they would exchange their phone number but she didn’t know how to say it. Luckily Ru had made the first move.

Since then they called each other often and some Saturday mornings Ru would pick her up to have a morning walk with Jupiter. Ina felt that she had a deep crush on Ru and she was pretty sure that Ru felt the same for her. It’s only they had not talked about how they were feeling for each other.

And today, Ina felt that her wish would come true . Yesterday Ru called her and asked

“What are you up to tomorrow ?”

“Not much. I just want to finish Bernard Batubara’s LOVE, get lazy at home. Or maybe see a new good movie at 21.”

“Well then, what if I ask you out ? If there is a good movie then we see it. Call it a date. What do you think ?”

Ina felt her cheek flushed. She smiled gaily. They had never had a date before, just few times walked together at the park. It seemed like something good would happen between them . Her heart was carried away in a blissful feelings. In a flash she forgot she was talking to Ru on the phone .

“Heloo. Ina ? Are you still there ? If I bother your date with Bernard then it’s okay. We can go out next time .”

“Oh, you don’t. Not at all. I am glad we will go out tomorrow.” Ina said nervously. Stay calm, Ina, stay calm. But Ina could not hide her happy feeling and her pounding heart.

“Ok then, great. I’ll pick you up at 5. “

“Ok. See you.” By the time she had not heard Ru’s voice over the phone, Ina jumped out of the couch and called out for Tya in a vibrant happy sound she did not try to hide. She did not mind even if Jupiter knew she was very happy .

***

“Hey,“ Tya tapped her arm slightly. .

Ina jumped in a shock. . “Duuh Mbak Tya. You scared me. “

“ You should be. You are staring at those clothes with your eyes beam. Who are you thinking of ?”

“No one . I am not thinking of anyone, Mbak,” Ina smiled shyly.

“What do you think of this ?” Tya smiled at Ina happily, showing her beautiful peach dress to Ina. Ina was still holding a basket full of clean clothes she just finished ironing.

Ina nodded and smiled. “You are pretty, Mbak. Very pretty.”

All her fantasy about the man stumbled into pieces. That’s enough to lie on herself with the fantasy . It’s time she woke up from her dream . A dream that would not be a real one.

Mbak Tya was very lucky. In few minutes she would be picked up by the Neymar guy who had a lovely smile. Ever since they met at the park that morning, Ina wrote her own fantasy about Ru in her mind. Ru’s face flashed in her eyes every time Tya told her their meetings and calls .

She knew she was just a housemaid even though the whole family treated her like their own, especially Tya who had no sisters. She was only one year older than Tya. Tya loved to talk with her and taught her many things . Tya asked her mother to enroll her into short courses like cooking, sewing so that she could have practical skills . Five years ago she came here from her small village in East Nusa Tenggara to live with Tya’s family.

Tya said though she did not go to college, she had to have some skills so one day she could make a better living than just being a housemaid. Tya always reminded her to take goof care of herself and be careful to befriended with men . Tya did not want her to be fooled around by men as Ina had a pretty face .

Ina glanced down at the floor, feeling a little bit sad. If she met a man like Ru , she would not mind being a fool. She had noticed how good Ru treated Tya when they met. But Ina was happy for Tya because Tya was a very kind girl.

“It’s time I get rid of my crazy dream about this Neymar guy. I hope one day I meet another good Neymar guy.”

Ina lovingly looked at Tya who was walking toward the front door . Ready to welcome her special guest whom she had been waiting for the whole day.

Note : * Mbak Tya.

In Indonesia a young person calls an older woman as Mbak ( Miss ) or a housemaid calls the daughter of the house.

    ********************************************************************************************** 

INDONESIAN VERSION

Dia tersenyum-senyum sendiri sambil merapikan baju setrikaan. Rasanya tidak sabar menunggu sore tiba. Udara Jakarta yang sangat panas dan rasanya menyengat sampai ke dalam rumah, menembus lapisan tebal dinding dan ruang terbuka jendela-jendela yang sengaja dibuka lebar, menyambar setiap kulit telanjang yang dilewatinya, wajah, lengan. Tapi sepertinya kegerahan yang menghinggapi semua orang di rumah tidak mengganggu Ina. Walaupun sudah berkali-kali dia menyeka peluh di dahinya dengan saputangan handuk yang selalu dikantonginya ( pesan Ibu dia selalu harus bersih dan apik ), seluruh tubuhnya terasa sejuk, seperti disiram air es setiap 10 menit.

Senyumnya makin lebar ketika mengingat wajah cowok dengan alis tebal dan rambut ala Neymar itu menyapanya pertama kali.

Dia sedang membawa Jupiter jalan pagi bersama mbak Tya ketika mereka bertemu dengan cowok berambut Neymar itu di taman dekat kolam renang kompleks . Ketika mereka berpapasan, cowok itu berhenti ,tersenyum dan ber ‘selamat pagi’ kepada mereka.

Mulanya Ina tidak terlalu memperhatikan cowok itu tapi karena Tya juga berhenti dan membalas salamnya, Ina mulai memperhatikan cowok yang wajah tirusnya bermandi keringat di depannya. Duk. Tiba-tiba saja Ina merasa jantungnya berdebar cepat saat cowok itu mengulurkan tangannya sambil menyebutkan namanya.

“Saya, Ru. Bagus sekali Goldennya,” cowok itu jongkok dan mengelus-elus kepala Jupiter. Jupiter yang sangat suka dielus kepalanya langsung selonjor duduk.

Ru. Namanya lucu, pikir Ina.

Kemudian dia dan Tya menyebutkan namanya masing-masing.

“Marianna. Panggilannya Ina.”

Neymar eh Ru tersenyum . Cakep sekali. Ina tambah berdebar. Duuhh, kenapa ini.

“Nama yang cantik. Kok jadi Ina ?”

“Biar gampang ngingatnya,” sahut Tya sambil tertawa. Ina juga ikut tertawa.

Mereka berbincang sesaat sambil Ru asyik mengelus-elus kepala Jupiter. Lama-lama Jupiter mulai tertidur. Ina menyentakkan talinya agar Jupiter tidak benar-benar tertidur. Kalau tidak, siapa yang sanggup menyeret tubuhnya yang gede dan berat itu.

“Kita berarti tetanggaan ya. Aku dua kompleks dari rumahmu,” ujar Ru.

“Iya ya. Tapi dua kompleks sih nggak tetanggaan, dekatan kompleks ,” Ina tertawa.

Mereka berpisah dengan saling berharap bahwa mereka akan ketemu lagi. Ina amat sangat berharap. Dia tidak menyangka sudah hampir 6 bulan ini dia rajin membawa Jupiter jalan pagi, baru hari ini dia ketemu cowok ganteng yang ramah. Dia akan jadi lebih rajin membawa Jupiter jalan pagi.

Dan sepertinya nasib sudah menggariskan bahwa mereka akan bertemu kembali, tidak di sengaja. Dia sedang mencari bacaan ringan untuk menghabiskan weekend nya ketika suara yang serasa dikenalnya menyentuh pendengarannya.

“Hai, suka Bernard Batubara juga ?”

Ina menoleh dengan sedikit kaget tapi kemudian tersenyum sipu. Cowok berambut Neymar itu sudah ada di hadapannya. Kali ini wajah dan rambutnya tidak basah karena keringat. Wajahnya bersih, agak kecoklatan , dan rambutnya tertata rapi . Mungkin diberi sedikit pumade. Tambah menarik.

“Hai. Ehh, belum jadi fansnya. Baru mau baca,” ditimangnya Surat Untuk Ruth ditangannya.

“Musti dibaca. Bagus,” Ru menunjukkan jempolnya sambil tersenyum.

“Fannsya ?” Ina menatap selidik. Tumben cowok kaya Ru suka bacaan tentang cinta .

“Bisa dibilang begitu.” Ru tertawa. “ Kisah cintanya indah tapi juga sedih. Anyway, kalo aku cerita nanti kamu nggak mau baca. Musti ngalamin ceritanya sendiri baru seru.”

Wah, satu point lagi buat si Neymar ini, pikir Ina. Ganteng, sopan dan tidak malu mengakui dia suka baca kisah cinta yang indah, bukan hanya nonton bola. Apa dia suka bola juga ya ?

“Ada bukunya yang lain juga. Milana, Cinta, apalagi ya ? Aku lupa. Nanti aku pinjamin deh kalau kamu mau. Sebenarnya koleksi adikku,” bisik Ru perlahan. “Tapi boleh kok dipinjam. Aku aja bacanya karena pinjam ke dia.”

Ina tersenyum geli. “Ok, boleh. “

“Apa kabar di Golden ?” tanya Ru ketika mereka sudah duduk berdua di café sebelah toko buku sambil menikmati segelas es campur dan tape bakar.

“Jupiter ? Baik masih tetap tertidur kalau dielus kepalanya.”

Ru tertawa . Enak bunyi tawanya, pikir Ina. Renyah kaya makan Chips, kriuuk. Ina tiba-tiba jadi salah tingkah.

“Kok kita nggak ketemu lagi sejak di taman pagi itu ya ?” celetuk Ru

Ina tersipu. Hmm, dia masih ingat rupanya pertemuan mereka pagi itu. Ya pastinya. Kan itu baru tiga hari lalu. Ina jadi geli.

“Aku kuliah pagi, nggak keburu kalau musti bawa Jupiter jalan.”

“Oya ? kuliah di mana ? Aku kebetulan kuliahnya banyakan siang semester ini.”

“Sastra Jepang Atmajaya,” sahut Ina.

“Menarik. Sepertinya kamu cocok kuliah itu,” Ru menatapnya menggoda.

Ina merasakan pipinya panas. “Memangnya kenapa ?”

“Wajahmu sudah mirip orang Jepang. Kulit putih, mata kecil dengan rambut hitam lurus ,” Ru tertawa. “ Sorry, aku emang nggak nyeni kalo ngomong,” lanjutnya.

Tapi Ina tidak marah atau kesal. Dia malah semakin tersipu dan deg-degan. Ru benar-benar menarik. Orangnya. Suaranya. Ngomongnya. Rasanya betah aja kalo ngobrol lama-lama sama dia.

“Harusnya kamu yang jadi orang Jepang ya. Namamu sudah mirip orang Jepang,” balas Ina.

Ru tertawa. “Harusnya ya . Tapi sebenarnya namaku Rudolf .”

“Boleh kan kapan-kapan ngobrol lewat telpon ? Minta pin mu atau nomor hp mu,” ujar Ru terus-terang.

Ina tambah salah tingkah. Sebenarnya dari tadi dia berharap mereka bisa saling bertukar nomor telepon tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Syukurlah sudah didahului oleh Ru.

Sejak itu mereka rajin saling menelpon dan beberapa kali Sabtu pagi Ru menjemputnya untuk jalan pagi sambil membawa Jupiter. Ina merasa dia mulai jatuh cinta sama Ru dan dia yakin perasaan Ru juga sama dengannya. Hanya saja sampai hari ini tidak ada seorangpun diantara mereka yang berterus-terang tentang itu.

Dan hari ini, Ina merasa penantiannya akan terjawab. Kemarin Ru menelpon dan bertanya .

“Besok ada acara apa?”

“Nggak ada. Pengen nyelesaian Cinta-nya Bernard Batubara.Leyeh-leyeh aja di rumah. Hhmm kalau rajin nanti liat ada film bagus nggak di 21.”

“Kalo gitu aku ajak jalan sorean, mau ? Skalian kalo ada film bagus kita tonton. Gimana ?”

Ina merasa pipinya memerah. Dia tersenyum lebar. Sebelumnya mereka belum pernah jalan bareng kecuali jalan Sabtu pagi. Mereka hanya rajin telponan. Sepertinya ada sesuatu yang indah bakalan terjadi besok sore. Saking senangnya, dia tidak menjawab pertanyaan Ru sampai cowok itu berujar.

“Heloo. Ina ? masih di situ ? Kalau aku ganggu acara mu bersama Bernard, nggak apa-apa. Lain kali juga bisa kok.”

“Ehh..oh nggak . Nggak sama sekali. Aku senang kok jalan bareng besok,” Ina terbata. Tenang Ina, tenang. Tapi Ina tidak bisa menyembunyikan rasa hatinya yang berdebar-debar.

“Ok kalau begitu. Thanks ya. Kujemput jam 5 besok ya.”

“Okay. Sampai besok.” Begitu sudah tidak terdengar suara Ru di ujung telpon, Ina melompat dari duduknya dan meneriakkan nama Tya dengan rasa senang yang tidak disembunyikannya. Dia tidak keberatan sampai Jupiter pun tahu hatinya amat sangat senang menunggu besok sore.

***

“Heh, melamun. “ Tya menepuk lengannya .

Ina melaonjak kaget. “Duuh mbak Tya. Kaget nih. “

“Habisnya melototin baju-baju itu sambil matanya menerawang. Melamunin siapa sih, Na ? “

“Nggak ada siapa-siapa yang dilamunin , Mbak.” Ina tersenyum malu.

Gimana ? “ Tya tersenyum sumringah di depan Ina yang masih memegang keranjang berisi baju yang sudah rapi di setrika.

Ina mengangguk-angguk sambil tersenyum . “Cantik, mbak. Cantik.”

Seluruh angannya tentang si cowok berambut ala Neymar itu luruh seketika. Sudah cukup dia membohongi dirinya sendiri selama ini dengan impian yang sungguh mustahil untuk jadi kenyataan.

Betapa beruntungnya mbak Tya. Sebentar lagi dia akan dijemput oleh si Neymar yang senyumnya manis itu. Sejak mereka bertemu di taman pagi itu, Ina menulis angannya sendiri tentang Ru di benaknya. Wajah Ru selalu terbayang setiap kali mbak Tya menceritakan pertemuan-pertemuan dan teleponan mereka kepadanya.

Dia sadar, biarpun dia hanya sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga mbak Tya sejak lima tahun lalu ketika dia pergi dari kampungnya di NTT , mereka semua menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Terutama mbak Tya yang tidak mempunyai saudara perempuan. Umur mereka hanya terpaut setahun.Mbak Tya suka mengajaknya ngobrol dan mengajarinya banyak hal dan meminta ibunya untuk memberi berbagai macam kursus agar dia mempunyai banyak keahlian untuk dirinya.

Kata mbak Tya, biarpun dia tidak kuliah, dia harus berpengetahuan banyak agar suatu saat dia bisa buka usaha sendiri. Dan mbak Tya selalu berpesan agar dia berhati-hati kalau berkenalan dengan cowok karena dia berwajah cantik dengan hidung mancung dan mata besar seperti kebanyakan perempuan dari daerahnya. Kata mbak Tya dia tidak mau kalo Ina dibodohi oleh kegombalan cowok yang ditemuinya.

Ina menunduk sedih. Kalau cowok itu seperti Ru, dia tidak berkeberatan sama sekali, karena dia bisa melihat caranya Ru memperlakukan mbak Tya kalau mereka bertemu. Tapi dia berbahagia untuk mbak Tya karena mbak Tya seorang gadis yang sangat baik.

“Sudah saatnya aku menghentikan angan gilaku tentang si Neymar itu. Semoga suatu hari aku juga bertemu dengan seorang Neymar yang lain.”

Ina memandang dengan penuh kasih mbak Tya yang berjalan sambil sesekali menoleh sumringah ke arahnya, menuju pintu depan yang sedang dibunyikan belnya oleh tamu yang telah ditunggunya.

First Date

This is the first time I have ever published a short story in English. I have done some but never posted them online except for poems. I still find it quite difficult to do the translation, and I have tried my best for this one though. Please readers, if you ever have a chance to read this, I would appreciate any comments and corrections about this fiction. I want to keep learning and improving and writing especially in English. Thank you for giving me your precious time to stop by and review this. 

 

Her heart was racing slowly. She felt a strong stream of blood flooding on to her face. A bit of hot rush caressed her cheeks. Doooh , now what ? she was startled.

The guy in front of her was still putting his eyes on the menu covering with a unique black and white pictures of travel destinations taken from newspaper.

She just stared at the menu in front of her like a lost person trying to figure out a map.

Thousand red ants crawled her toes, tickled every pores on her skin and stung it with their sharp teeth. One thump of her left foot made Bara and the girl with the pony tail who was serving their table, turned their heads to her.

“What is it, Nad ?” Bara put the menu on the table.

“Ehmm…my foot got numb,” she quickly answered. What if Bara knew what had made her foot got numb ? and she was in panic ? and her face was pale ?

“Hey, you look pale. Are you okay ? “ Bara took her hand.

It’s too late. She was not quick enough to push his hands aside. Now her right palm was in his hands. Bara’s handhold was comfortable. She didn’t mind to let her hands in it for a while.

She hoped she could tell the truth , but how ? It would be strikingly embarrassing. This was their first date and she had counted thousand of romantic feelings that had filled her mind ever since she was waiting for Bara to pick her up. Now it was all gone. Gone with the hot rush that seemed to enjoy licking her cheeks.

“Nothing,” Nadya smiled shyly . She got off Bara’s hold gently. At a glance, she knew the girl with the pony tail smiled slightly at her.

“What would you like to have?” asked Bara

Bang! Nadya felt limp. She could not stop her racing heart beat . Her fingers felt like they were streaming with cold ice. She hated herself when she was panic and clumsy like this. What if she told Bara honestly ? But how could she hide her embarrassment if they knew ? Perhaps she could deal it with Bara, later. But to that girl with a pony tail who seemed to enjoy waiting for their order beside the table , how could she face her ?

“Hey …” Bara touched her hand.

Oh gosh… why did she stare at Bara like that ? Nadya suddenly realized the way she was looking at Bara.

“Ehh…ahhh.. sorry,” Nadya bent down and ran her hands inside her hand bag . I had to be strong. I had to tell him the truth. I could not go on like this and ruined this date. No matter what would happen, I’d take the risk. I didn’t care if they would laugh at me. I just didn’t want to blow my first date with a clumsy and stupid act.

By the time she pushed the send button on her mobile, Bara’s mobile that was on the table, beeped . Bara frowned and looked at her hesitantly. Nadya smiled timidly.

A big smile was covering Bara’s lips. He looked at Nadya lovingly and it  could be said they were sparkling with a little bit of whimsical look. Nadya nervously glanced outside the café window . She wished she could be Susan Storm right this moment, she would make herself disappear from Bara for a while. But what about this date ? what about all the romanticism that had pampered her mind ?

“Well, I would like to have green salad, sirloin with mushroom sauce, make it medium rare, and mashed potato. How about you, Nad ? Or can I recommend something nice ? “ Bara looked at her charmingly and warmly.

Nadya smiled gladly. “That would be perfect. “

Ah, Nadya was relieved and embarrassed at the same time. Nothing more could be done. Bara had known why she was panic. Her romantic date would be a silly date that she would fondly remember it. It’s very fortunate that Bara could cover her own embarrassment about the text message she sent to Bara : I cannot read the menu. I forgot my glasses. I am feeling so embarrass to look like a fool, staring at the menu. Please help…

 

Indonesian

KENCAN PERTAMA

Jantungnya mulai berdegup perlahan. Dia merasa aliran darah dengan cepat mengalir deras ke bagian wajah. Sedikit rasa panas membelai kedua pipinya. Duuhh, bagaimana nih? Pikirnya panik.

Lelaki di depannya masih asyik dengan buku menu bercover unik lembaran-lembaran destinasi travel dari kolom surat kabar.

Dia sendiri masih menatap buku menu di hadapannya seperti orang linglung.

Ratusan semut merah merayapi ujung jari kakinya, menggelitik setiap lubang pori yang dilalui dan menyengat kulit dengan sungut mereka yang tajam. Satu sentakan kaki kirinya yang keras membuat Bara dan gadis berkuncir yang melayani mereka serentak menoleh ke arahnya.

“Kenapa Nad ?” Bara meletakkan buku menu ke meja.

“Ehmm…kesemutan,” sergahnya cepat. Bagaimana kalau sampai Bara tahu apa yang membuatnya kesemutan ? dan panik ? dan pucat ?

“Hey, kok kamu pucat ? Kamu sakit ?” Bara meraih tangannya.

Terlambat. Dia tidak cukup tangkas untuk menepis genggaman tangan Bara. Kini tangan kanannya sudah berada dalam genggaman lelaki itu. Genggaman tangan Bara hangat. Dia betah membiarkan tangannya dalam genggaman Bara kalau begitu.

Seandainya dia bisa berterus-terang. Tapi gimana ? Akan amat sangat memalukan. Ini kencan pertama mereka dan dia telah menghitung ribuan perasaan romantis yang sudah ada dalam benaknya sejak tadi ketika menunggu Bara datang menjemputnya, sekarang lenyap. Menguap bersama rasa panas yang makin betah menetap di kedua pipinya.

“Tidak apa-apa,” Nadya tersenyum jengah. Dilepaskan genggaman tangan Bara dengan lembut. Sekilas dia merasa gadis berkuncir itu tersenyum tipis.

“Mau pesan apa ?” ujar Bara.

Duk. Nadya serasa lemas. Dia tidak bisa menahan debaran jantungnya yang melejit seketika diatas denyutan normal. Jari jemari tangannya terasa dialiri rasa dingin yang entah dari mana datangnya. Dia benci kalau panik dan malu seperti ini. Apa dia berterus terang aja ya ? Tapi gimana menyembunyikan rasa malunya nanti ? Pada Bara,mungkin dia masih bisa memaafkan dirinya sendiri , nanti. Tapi pada gadis berkuncir yang masih saja betah berdiri di samping meja mereka ini ?

“Hey …” Bara menyentuh tangannya.

Ampuunn… kenapa dia jadi melotot ke arah Bara kaya gini ? Nadya tersadar tiba-tiba.

“Ehh…ahhh..maaf,” Nadya menunduk lalu mengaduk-aduk tasnya yang disampirkan di kursi. Aku harus kuat. Aku harus berterus terang pada Bara, apapun yang akan terjadi akan kuterima. Aku nggak peduli lagi kalau mereka tertawa mengejek. Tapi aku nggak mau menggagalkan kencan pertamaku ini dengan sikap bodoh.

Begitu dia selesai menekan tombol send pada handphonenya, handphone Bara yang ditaruh di meja , bergetar. Bara mengernyitkan dahinya dan kemudian menoleh ke arahnya dengan tampang bertanya. Nadya tersenyum jengah.

Seulas senyum lebar memayungi bibir Bara. Ditatapnya Nadya dengan penuh cinta, dan sedikit geli.. Nadya menoleh ke arah jendela luar dengan malu. Rasanya kalau bisa saat ini juga dia jadi Susan Storm yang bisa menghilang. Menghilang sejenak dari hadapan Bara. Tapi kencan pertamanya ini ? Semua romantisme yang telah diangankannya ?

“Mbak, satu green salad , sirloin medium rare dengan mushroom sauce, dan mashed potato. Kamu pesan apa ? atau mau aku recommend ?” Bara dengan sengaja menatapnya dengan amat sangat manis dan hangat.

Nadya tersenyum lega. “Ya, kamu aja pilihin.”

Ah, Nadya tidak peduli. Sudah terlanjur. Rahasia kepanikannya sudah diketahui Bara. Biarlah. Kencan romantisnya akan menjadi kencan konyol yang akan selalu dikenangnya dengan amat manis. Tapi syukurlah Bara dengan sangat baik menutupi rasa malunya akan pesan yang tadi dikirimnya ; Aku nggak bisa baca menunya. Kacamataku ketinggalan. Malu deh keliatan melototin menu aja. Gimana nih ?

 

Pada Suatu Malam

Lelaki itu memutuskan untuk masuk ke café kedua yang dilewatinya. Café itu cukup unik , dengan interior sederhana ; barrel kayu yang dijadikan meja dan kursi-kursi langsing coklat tua. Penerangan cukup memadai untuk mereka yang pengen minum dan mengobrol sambil makan bermacam-macam camilan traditional. Ada juga French fries dalam wadah-wadah rotan dilapisi kertas daur ulang. French fries, camilan bule yang sepertinya sudah menjadi tambahan camilan dalam menu camilan tradisional. Sebenarnya kita juga bisa membuat French fries dari ubi atau talas Bogor , dengan irisan tipis dan renyah, digoreng saat dipesan. Sudah ada nggak ya yang menasionalkannya ? Pasti bisa jadi camilan yang go internasional . Ahh, buat apa aku pikirkan ? Lelaki itu menarik ujung bibirnya sambil meneliti daftar minuman di hadapannya.

Dia tidak berniat untuk mabuk. Bir dingin dengan irisan jeruk cukup menggugah selera, pikirnya. 4 botol tidak akan membuatnya sempoyongan pulang ke kontrakan tengah malam nanti. Dia hanya ingin menikmati suasana café , tidak berpikir apa-apa, tidak menginginkan apa-apa.

Malam ini ingin dihabiskannya dengan bernafas sebanyak mungkin, selama yang dia bisa. Dia berencana akan menikmati setiap tarikan nafasnya dalam-dalam, merasakan setiap udara yang melewati ujung hidungnya. Tidak peduli bau apa yang akan singgah di penciumannya. Saat ini bau French fries yang baru digoreng, kacang goreng yang manis, hembusan bau red wine manis dari sepasang perempuan dan lelaki muda tidak jauh dari tempatnya duduk, menggelitik tenggorokannya. Pasangan itu tampak sedang berbahagia. Si perempuan memasang senyum yang sumringah di bibir tipisnya yang dipoles merah muda , dan si lelaki muda tidak melepaskan tatapannya dari wajah manis perempuan di depannya.

Dia pernah menjadi lelaki muda itu, yang menatap penuh cinta perempuan di depannya. Tapi perempuan yang dipandangnya tidak membalas dengan senyum sumringah seperti perempuan bergaun pendek itu. Yang dia terima adalah pendangan kecewa, mungkin sedikit bercampur iba dan cinta, lelaki itu menghibur pikirannya sesaat.

Dia rindu tiba-tiba sama perempuan itu , tapi saat ini dia tidak ingin memikirkan apa-apa, juga tentang perempuan itu. Dia hanya mengingat sesaat setiap lekuk raut perempuan itu , yang selalu suka dikatupnya dalam kedua genggam tangannya, begitu mungil , cantik tapi selalu memancarkan keteguhan hatinya yang tidak pernah bisa dia bantah. Karena perempuan itu selalu benar tentang segala hal tentang dia.

“French fries nya ditambah lagi , Mas ?” gadis berok pendek rapi dan tidak menggumbar keseksiannya itu mengambil mangkok rotan berisi French fries yang tanpa sadar sudah ludes dimakannya.

“Hhmm…nggak deh , Mbak. Tadi saya lihat di menu ada spring roll . Yang ayam ya, Mbak, seporsi,” satu teguk Corona dingin membilas tenggorokan keringnya.

Sepertinya lebih enak duduk di bar, pikirnya . Bar tampak kosong karena semua tamu yang ada memilih duduk di meja barrel . Dia menggapai seorang waiter yang lewat di dekatnya dan mengatakan dia ingin pindah duduk ke bar .

“Silakan, Pak. Saya akan bawa minuman Bapak ke sana,” sahut waiter itu.

“Nggak apa-apa. Hanya sebotol ini. Makasih, Mas,” dia melangkah ke bar sambil menenteng Coronanya.

Setelah duduk dia berbasa-basi sebentar dengan bartender , membicarakan pertandingan bola yang sedang berlangsung di TV yang tergantung di samping bar. Sebagai seorang laki-laki, dia tidak terlalu suka menonton bola. Dia lebih memilih tinju. Tapi dia suka ikut nobar bersama beberapa kawannya kalau ada pertandingan liga . Mereka biasanya memilih nobar di Kemang sambil menikmati bir dingin . Seringnya, kalau tidak bisa dibilang selalu, dia lebih menikmati bir yang disuguhkan atau beberapa gelas margaritha daripada ikut berteriak dan mengumbar emosi sesaat kalau club yang diunggulkan tidak menghasilkan gol yang diharapkan penggemarnya.

“Pertama kali ke sini ya,Pak,” tanya bartender.

“Ya,” sahutnya pendek. Pastinya bartender itu sudah hafal mereka yang suka duduk di bar ini. Dan pastinya dia tahu bahwa lelaki itu baru pertama kali ke sini.

Satu potong spring roll sudah berpindah ke perutnya. Masih ada 4 potong lagi . Paling dalam waktu sejam sudah ikut temannya berpindah ke perutnya yang entah kenapa tiba-tiba terasa lapar. Mestinya botol kedua Corona itu membuatnya kenyang tapi ini malah sebaliknya. Mungkin karna lambungnya sudah lama kehilangan rasa mengenyangkan dari fermentasi barley dan gandum itu. Rasanya sudah bertahun-tahun lalu, , tapi sebenarnya tidak.

“Kalau tidak ada yang nonton bisa cari program musik nggak, Mas ?” tanya lelaki itu setelah mengamati bahwa tidak ada seorang tamu yang tertarik untuk menonton pertandingan bola di TV itu.

“Oh boleh, Pak. Sebentar,” bartender itu dengan cekatan mengambil remote dan mengganti ke program musik. Kebetulan yang disiarkan adalah salah satu Live Sting di London. Cukup menarik. Dia sebenarnya tidak berminat untuk menonton, hanya ingin menikmati suara – suara yang enak di kuping daripada teriakan pembaca acara bola itu , yang walaupun sudah dikecilkan volume suaranya masih juga cukup keras menerpa kupingnya.

Sambil mengunyah spring roll kedua, lelaki itu menonton Sting beraksi dengan suara indahnya.

“Malam Mbak,” terdengar suara bartender menyapa lalu suara kursi bar ditarik.

“Malam. Biasa ya,” suara agak sengau seorang perempuan yang dibelakanginya membuat lelaki itu menegakkan tubuhnya dan membalik menghadap ke rak bar.

Dengan disengaja, lelaki itu mengalihkan pandangannya ke samping kirinya , di mana perempuan bersuara sengau itu duduk.

“Selamat malam,” sapa lelaki itu.

Perempuan itu menoleh ke arahnya. Bola matanya yang bulat dinaungi olesan eye shadow warna peach tidak menyiratkan apa-apa. Tapi bibir penuh yang menyembulkan gigi putihnya memberi seulas senyum dan membalas dengan selamat malam.

Mata yang cantik. Tapi kenapa seperti tidak ada kehidupan terpancar dari situ ya ? pikir lelaki itu. Ah, aku terlalu sok tahu. Tapi selama bergaul dengan Romo Yos yang menurutnya berpikiran bebas dan lebih spiritual daripada dogmatis , mengajarkannya banyak hal . Salah satunya adalah dia bisa merasakan bagaimana seseorang itu memancarkan perasaan tersembunyinya melalui pandangan mata.

Pesanan perempuan itu tiba. Segelas red wine. Sahabat perempuan, batin lelaki itu. Dia pernah baca dari satu artikel bahwa red wine yang diminum dengan takaran yang tepat, baik untuk kesehatan perempuan, terutama mereka yang mengalami darah rendah. Kalau menurut dia, semua liquer baik kalau dikonsumsi dengan tepat. Dan bir tetap menjadi pilihannya. Dia sendiri lebih sering menyalahi aturan itu sesuai dengan emosi yang sedang dirasakannya.

Perempuan itu dengan sopan mengangkat gelasnya ke arahnya. Dia mengangguk pelan.

“Penikmat red wine ?” entah kenapa dia menyeletuk. Lelaki itu heran sendiri dengan apa yang baru saja dilakukannya. Padahal ketika masuk tadi, dia hanya ingin duduk tenang dan menikmati minumannya. Dan sekarang , kenapa dia tiba-tiba jadi ingin mengobrol dengan perempuan di depannya ini ? Suaranya sengau nya menarik, dia mencoba membela diri.

“Ya, tapi tidak yang terlalu keras . Lebih sering memilih Cabernet Sauvignon. Enak dinikmati kalau cuaca Jakarta sejuk seperti sekarang,” perempuan itu tersenyum.

Cantik. Tidak ada polesan apa-apa di wajahnya yang sedikit tertutp dengan helaian poni panjang yang dibiarkan tergerai di sisi kiri wajahnya. Ujung rambut nya menyentuh pundak. Tampaknya dia bertubuh cukup tinggi untuk menyamai pandangan mata lelaki itu yang persis berhadapan dengannya.

“Oya ?” tiba-tiba lelaki itu tertawa kecil. Menyadari kebodohannya bahwa dia tidak terlalu mengerti soal rasa red wine kecuali beberapa nama seperti Merlot, Shiraz, Pinot Noir yang sering dilihatnya terpajang di bar café .

“Maaf, saya tidak bermaksud..” perempuan itu tersenyum rikuh.

“Bukan apa-apa. Saya tertawa karena kalau Anda meneruskan membicarakan tentang red wine, saya akan kelihatan benar-benar bodoh,” dia tertawa lagi. “Karena saya bukan penikmat red wine.”

“Oh, maaf,” perempuan itu tiba-tiba melayangkan matanya ke botol Corona di depan lelaki itu.

“Wah, seperti lagi berlebaran ya kita, kamu minta maaf terus,” lelaki itu tertawa lepas. Benar-benar lepas. Dia tidak tahu kenapa. Dia hanya merasa perempuan cantik di depannya itu, yang kelihatannya baru pulang kantor amat sangat menyenangkan. Mungkin saja karena dia tiba-tiba rindu sama perempuan cantik yang tidak mau dipikirkannya saat ini.

Perempuan itu ikut tertawa. Benar tertawa, tidak dibuat-buat. Dan suara sengaunya tambah indah, menurut lelaki itu.

“Saya tidak memperhatikan bahwa Anda penikmat bir,” lagi-lagi perempuan itu tersenyum rikuh.

“Tidak apa-apa. Kalau kita selalu memperhatikan orang lain, kita tidak bisa menikmati diri sendiri dengan hati yang senang. “

Perempuan itu mengangguk. “ Ya benar. Tapi setidaknya saya harus memperhatikan lawan bicara dengan lebih baik. Dan tidak asal nyerocos apa yang ada di pikiran .”

“Menurut saya, itu hal yang baik. Banyak orang , termasuk saya, kadang tidak bisa asal mengutarakan apa yang ada di pikiran , dan hal itu bisa menimbulkan prasangka yang lain dari yang dipikirkan,” diambilnya sepotong spring roll dan dalam dua kali gigitan sudah hancur dalam mulutnya.

“Wah, saya tidak sopan ya. Coba dicicipi,” disorongnya spring roll ke arah perempuan itu.

Perempuan itu tertawa kecil. Tiba-tiba lelaki itu sangat menikmati gigi putih yang berbaris rapi di balik bibir penuh itu. Tapi matanya tidak ikut tertawa, lelaki itu tersenyum prihatin. Kenapa ya?

“Terima kasih. Kalau menurut saya, dari semua camilan yang ada di sini, ini yang paling enak.” Dengan santai diambilnya sepotong .

Pasti dia langganan di sini , pikir lelaki itu. “Saya baru mencoba yang ini , dan French friesnya. Lumayan enak juga.”

“Ya, enak buat ngebir .”

Perempuan itu melambai ke arah bartender dan memesan satu porsi spring roll.

“Habisin aja, nggak apa-apa,” senyum lelaki itu.

“Kalau Anda makan 5 potong baru benar-benar terasa enaknya. Lagian ini juga keci-kecil potongannya.”

“Okay,” sahut lelaki itu.

Ketika sepiring spring roll tiba di meja mereka, mereka sudah saling berbicara dengan tidak menggunakan kata Anda.

“Ngantor di mana ?” tanya lelaki itu. Sebenarnya pertanyaan itu terlalu pribadi tapi dia sudah terlanjur bertanya. Dan dia tidak keberatan kalau perempuan itu tidak mau menjawabnya.

“Lokasi maksudnya ? “ perempuan itu balik bertanya, sambil bersidekap. Blus garis biru yang membungkus tubuhnya dan tidak menutupi lengan telanjangnya yang putih bersih, sangat menggoda pandangan lelaki itu. Indah. Blazer biru tua yang tadi dipakainya sudah disampirkan di kursi sebelahnya.

Tampaknya dia seorang yang hati-hati.

“Bisa lokasi bisa bidangnya. ASL ? “ dia tertawa .

Perempuan itu juga ikut tertawa, mengerti joke yang diucapkannya.

“Ya, saya ngalamin juga. ASL, tapi seru.”

“Sekarang sudah bukan jamannya lagi ya. Anyway, jawabannya ?”

“Kontraktor. Permata Hijau. Kamu ?” perempuan itu menatap, agak menyelidik. Tapi lelaki itu tidak tersinggung. Dia sudah belajar untuk lebih tidak emosional, lebih mendengar.

Lelaki itu tersenyum lebar. “ Pengangguran. Lokasi bisa di mana saja.”

Dia tertawa, sementara pipi perempuan di depannya itu bersemu merah. Dan sebelum dia mengucapkan kata maaf, lelaki itu memotong cepat. “Jangan bilang maaf. Tidak apa-apa. Memang begitu keadaannya. Aku sedang mencari. Ada lowongan di tempatmu ?”

“Aku tidak tahu. Nanti kutanyakan,” perempuan itu menenggak sisa red wine di gelasnya. “Kamu mau nambah Coronanya ?” diliriknya botol kosong di samping piring spring roll yang juga sudah kosong.

“Ya, boleh. Satu, terakhir. Kalau sudah lebih dari empat, aku bisa nggak pulang.” Dia tertawa. Perempuan itu ikut tertawa.

Tiba-tiba perempuan itu mengalihkan pandangannya ke belakang lelaki itu. Ke   arah TV. Sting sedang memulai intro “Every breath you take” dengan manisnya. Perempuan itu seperti terpaku, tidak berkedip. Lelaki itu bertanya-tanya dalam hatinya. Apa lagu itu menggambarkan kesedihan di matanya ? Bisa jadi. Lirik lagu itu dia tahu persis meskipun dia bukan fans beratnya Sting tapi pastinya semua orang kenal lagu itu. Dia ikut memutar badannya ke arah TV dan menikmati lagu tersebut.

Ketika lagunya selesai , lelaki itu mendengar desahan berat di belakangnya. Sepertinya benar. Ada sesuatu yang terjadi dengan isi lagu itu terhadap perempuan ini. Apa dia sedang patah hati ? Apa pacarnya pergi meninggalkan dia ? Atau dia sedang merindukan sebuah cinta lama ? Seperti aku ? Kenapa laki-laki kadang sangat bodohnya meninggikan ego mereka dan melukai sebuah hati yang penuh cinta yang tegas, yang marah , yang kecewa ? Dia laki-laki itu.Dia sadar itu. Dan dia tidak tahu dia akan menemukan cinta itu lagi. Dia tidak tahu. Tidak malam ini.

Dia membalik kea rah perempuan itu.

“Pernah ada film tentang lagu itu. Perempuannya sangat berani,” dia tertawa kecil. Tapi matanya tidak.

“Aku tidak tahu. Ceritanya ?” sahut lelaki itu. Berharap dengan jawaban perempuan itu dia lebih mengenalnya. Dia sadar, perempuan di depannya ini mulai menarik hatinya, dengan sikapnya yang hati-hati tapi bisa menyampaikan candaan kering yang sangat menggelitik. Terutama mata indahnya membuat rindunya serasa terobati.

“Seperti isi lagu itu. Seorang perempuan sangat mencintai seorang lelaki yang akhirnya menjadi obsesif dan abusive, Sad ending. Perempuan itu membunuh lelaki yang dicintainya. Aneh bukan ?’ dia tertawa.

Lelaki itu mengangguk-angguk. Cinta memang aneh. Dan kita menikmati setiap keanehan yang kita alami.

“Tapi aku tidak seberani perempuan dalam film itu,” dia mengalihkan pandangannya kembali ke TV. Sting telah selesai, berganti dengan hip hop.

“Membunuh lelaki yang kamu cintai ?” tanya lelaki itu bodoh.

Perempuan itu tertawa. Cukup keras yang membuat beberapa tamu menoleh ke aras mereka. Ditutupi mulutnya dengan kedua tangannya.

“Aku ? Aku tidak akan membunuh lelaki yang kucintai,” matanya menerawang. “Maksudku, aku tidak seberani itu, mengejar cinta seorang lelaki.”

“Hhmm. Kenapa ? Kata orang bijak, cinta itu harus memiliki. Kalau tidak memiliki bukan cinta namanya,” lelaki itu tersenyum ke arahnya. Dan kadang kita menjadi bodoh dan melepaskannya, batinnya.

“Tidak apa-apa. Ada banyak hal yang tidak berani kulakukan dalam hidupku. Bagaimana ya bisa jadi lebih berani ?” tanyanya lugas.

Lelaki itu tertawa kecil. Pertanyaan ini akan menelanjangi dirinya. Belum saatnya. Dia tidak ingin malam ini, perempuan yang mulai menarik hatinya ini meninggalkannya, seperti perempuan satu itu.

“Pertanyaan yang menarik. Aku juga sedang mencari jawabannya,” dia mengetuk-ngetuk pelipisnya.

Perempuan itu tertawa. Hey, kali ini ada sedikit cahaya di mata indah itu.

“Kamu diplomatis ya ? Atau memang tidah tahu ,” dia tertawa lagi.

“Berani itu…hhmm gimana ya ? Aku lihat tikus aja bisa lompat ke meja atau kursi.”

Dan perempuan itu tertawa lagi. Lelaki itu menikmati lama-lama suara tawa yang sengau itu. Matanya yang menyipit dengan bahu terguncang perlahan. Perempuan. Setiap mereka cantik dan indah untuk dipandang . Hanya tidak semua perempuan berani membiarkan orang lain melihatnya. Berani. Ya, betul juga kata perempuan ini. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak berani kita lakukan. Dia juga. Dia tidak berani, belum berani sebenarnya .Untuk kembali ke rumah dan mencium kaki ibunya meminta maaf, belum berani berpikir untuk mencari perempuan mungil bermata indah yang ditinggalkannya karena egonya. Banyak hal dia sendiri tidak berani melakukannya.

Corona ke empat telah memenuhi lambungnya 10 menit yang lalu. Dan gelas wine ke tiga perempuan itu juga sudah hampir habis. Sepertinya dia tidak berniat untuk menghabiskannya, karena sudah setengah jam yang lalu dibiarkannya sisa red wine itu tergeletak di meja. Mereka sudah menghabiskan tambahan satu porsi French fries, satu porsi calamari dan spring roll. Cukup untuk pengganti makan malam.

Perempuan itu pamit ke toilet . Dia mengangguk dan memandangi punggung indah itu berlalu. Ah, sepertinya semua tentang perempuan itu indah di matanya. Dia tersenyum geli membayangkan apa kata Romo Yos kalau dia menceritakan tentang perempuan itu. Romo Yos dengan senyum bijak yang menggodanya akan menanggapi dengan ucapan “ Itu wajar. Yang indah dan cantik sudah lama hilang dari pandanganmu. Kamu harus menyesuaikan dirimu lagi dengan yang indah-indah dan cantik-cantik. “

Dia masih senyum-senyum sendiri ketika perempuan itu kembali.

“Aku pamit dulu ya,” perempuan itu mengulurkan tangannya. Diterimanya genggaman tangan halus dengan kuku-kuku berkuteks coklat muda yang tampak terpelihara baik itu. Digenggamnnya lembut, mengalirkan rasa hangat untuk bisa menembus kehampaan di mata indah itu. Dan perempuan itu tidak berusaha melepaskan cepat-cepat genggaman tangannya.

“Terima kasih sudah menemani ngobrol,” ujar perempuan itu.

“Terima kasih juga sudah membuat aku berpikir untuk mencari jawaban bagaimana menjadi berani.”

Perempuan itu tertawa renyah. Dihirupnya dalam-dalam udara tawa perempuan itu. Melapisi kerinduan rongga-rongga jiwanya akan kelembutan hati, penerimaan yang tidak bercuriga, dan rasa terima kasih yang tulus.

“Kalau kita bertemu kembali, aku harap demikian. Aku akan sudah mempunyai jawabannya,” sahut lelaki itu.

“Baiklah. Sampai ketemu.” Perempuan itu kemudian melangkah keluar.

Dia berdiri memandangi perempuan itu sampai menghilang dari depan café. Dia berharap akan bertemu lagi dengan perempuan itu. Sangat berharap, Dia akan kembali ke café ini di malam berikutnya atau minggu depannya pada hari yang sama. Dia yakin perempuan itu akan ada di sini. Dan dia akan mempunyai jawaban untuk pertanyaan perempuan itu tentang keberanian. Karena dia akan memberanikan diri menceritakan tentang dirinya, seluruhnya kepada perempuan itu. Dia akan berani menerima penolakan perempuan itu karena dia sudah belajar banyak tentang meninggalkan egonya.

***

Dua malam berikutnya, dia kembali lagi ke café itu, berharap akan menemukan perempuan itu duduk di bar dengan secangkir Cabernet Sauvignon. Tapi sampai café itu hampir tutup, dia tidak bertemu dengan perempuan itu. Tidak ada orang yang bisa ditanyakannya karena bartender yang ditemuinya pada malam itu tidak bertugas .

Dia pulang dengan kecewa. Tapi dia sudah belajar untuk berani kembali lagi minggu berikutnya, pada hari yang sama dia bertemu dengan perempuan itu. Kali ini dia tersenyum lega karena setidaknya bartender yang ditemuinya malam pertama dia datang ke café ini sedang bertugas. Dia memilih untuk duduk di bar.

“Apa kabar, Pak ?” sapa bartender itu ramah. “Minum apa , Pak ?”

Lelaki itu tersenyum. “Segelas Cabernet Sauvignon.” Dia ingin mencoba merasakan apa yang dinikmati perempuan itu. Dia belajar bahwa mencoba adalah salah satu keberanian yang harus dijalani.

Bartender itu tersenyum. Lalu menuang ke gelas di depannya.

“Perempuan yang saya ketemu waktu saya ke sini pertama kali itu, masih suka ke sini ?” diberanikannya bertanya ke bartender.

“Oh Mbak Sara ? “ bartender itu terdiam dengan terkejut. Gelas yang sedang dilapnya dibiarkan di meja bar.

“Ya, Sara,” Lelaki itu mengangguk. Dia baru tahu perempuan itu bernama Sara. Mereka tidak pernah menyebutkan nama masing-masing. Dan sepertinya mereka berdua tidak ingin saling bertanya malam itu karena banyak hal. Dia sendiri belum berani untuk membiarkan perempuan itu tahu tentang dia ketika mereka bertemu malam itu. Terlalu riskan . Dan kalaupun pada akhirnya mereka tidak pernah bertemu, dia tidak akan menyesali pertemuan mereka. Karena setelah malam itu dia sudah berjanji untuk membiarkan perempuan itu mengenalnya seutuhnya, tidak ada yang akan ditutupinya. Dia biarkan nasib yang akan mempertemukan mereka kembali . Dia pernah membaca satu quote yang mengatakan bahwa apapun yang harus terjadi terhadap kita, akan menemukan jalannya untuk terjadi, bagaimanapun kita melarikan diri dari hal itu.

“Bapak tidak membaca atau dengar berita ?’ sahut si bartender.

Dia menggeleng. Tidak ada TV di kontrakannya dan dia jarang browsing. Seminggu ini dia lebih sering ke tempat beberapa temannya dan ke kantor lamanya untuk melihat peluang mendapatkan pekerjaan . Dan dua hari yang lalu dia kembali ke rumah ibunya untuk minta maaf atas semua yang pernah dilakukannya yang telah membuat patah hati ibunya.

“Berita apa ?”

Bartender menatapnya dengan pandangan sedih. Aneh, pikir lelaki itu.

“Mbak Sara sudah meninggal. Dia menjatuhkan diri dari apartemennya di lantai 10.”

Serasa ada satu pukulan tinju yang sangat telat menyambar rahangnya. Dia merasa seluruh giginya rontok. Rahangnya patah. Matanya berkunang-kunang. Perempuan itu ? Perempuan menarik dengan suara sengau indah dan pancaran mata sedih ? kenapa dia tidak lebih berani waktu itu ? Kenapa dia tidak menahan perempuan itu untuk mengobrol lebih lama, dan tahu bahwa dia menyimpan satu kesedihan yang amat dalam ? Apa ada yang tahu kesedihannya ? Apa tidak ada orang yang menolongnya ?

Dan tanpa bertanya lebih lanjut, bartender itu menceritakan kejadian yang menimpa Sara, perempuan itu, dari berita yang dia baca. Sara diputuskan kekasihnya saat mereka sudah berencana akan menikah. Kabar yang terdengar bahwa kekasihnya berselingkuh. Sebulan sebelum kejadian itu, menurut teman-temannya, Sara sangat stress berat. Mungkin itu yang membuatnya mengambil keputusan nekat itu.

Tapi hal itu tidak lagi penting buat lelaki itu. Dia hanya mendengar bahwa perempuan itu sudah meninggal. Dia tidak akan pernah bertemu dengan perempuan itu lagi. Dia tidak akan mempunyai kesempatan untuk memberanikan diri mengungkapkan keadaannya kepada perempuan itu. Perempuan yang telah membuatnya lebih bertekat untuk berani berubah. Dia tidak akan pernah tahu bagaimana perubahan di raut wajah perempuan itu ketika dia menceritakan bahwa pada malam mereka bertemu, dia nekat ke café ini, dia beranikan dirinya untuk bertemu dengan orang-orang, untuk menikmati udara bebas yang amat sangat berharga setelah dia terkurung di balik jeruji besi selama 6 bulan untuk suatu keberanian yang bodoh yang pernah dilakukannya karena menolong temannya. Dia menikam seseorang dengan tidak disengaja pada saat terjadi perkelahian dengan teman-temannya. Orang yang ditikamnya tidak mati tapi dia harus membayar keberaniannya yang bodoh itu dengan mendekam di penjara. Kehilangan perempuan mungil yang amat sangat dicintainya, dan membuat ibunya patah hati.

Dalam penjara dia bertemu dengan Romo Yos yang mengajarkannya keberanian yang lain. Bukan keberanian yang nekat, tapi keberanian yang bijaksana dan tegas. Dan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah menjadi berani dengan akal sehat, bukan dengan ego dan emosinya.

Dia sudah merencanakan untuk memberi jawaban tentang pertanyaan perempuan itu dengan kisah hidupnya. Dan dia berharap, perempuan itu belajar hal yang sama. Dia ingin perempuan itu tahu bahwa dia belajar, hidup itu berarti, hidup itu sendiri berarti cara kita belajar untuk berani. Dia tidak pernah tahu bahwa Sara, telah menjalani keberaniannya sendiri.

Lelaki itu memandangi gelas berisi red wine di depannya yang belum disentuhnya. Red wine yang disukai Sara, perempuan yang ditaklukkan ketakutannya sendiri, sebelum tahu jawaban yang akan diberikan lelaki itu.

 

9 Juli 2014